Cerpen "Putaran Waktu" Karya Khrisna

 

Putaran Waktu

Karya Khrisna

 

            Sore itu, Ara duduk termenung di teras rumahnya. Sorot matanya kosong, pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Satu tahun telah berlalu, tapi Ara masih meratap. ”Sungguh bodoh aku saat itu,” ujarnya tanpa sadar.

            “Tidak, kau tidak bodoh. Sudahlah Nak, lupakan saja semua itu,” kata ibu yang baru saja duduk di sampingnya.

            Lima belas menit telah berlalu dan Ara masih terdiam dalam lamunannya. Ibu yang duduk disampingnya menatapnya dengan sendu. ”Apa kau tidak lelah seperti ini nak?,” tanya ibu.

            “Aku lelah Bu, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhku selalu bergetar dengan sendirinya dan rasanya aku ingin menangis. Sudah ya Bu, aku ingin tidur saja,” jawab Ara sembari masuk kedalam rumahnya meninggalkan ibunya yang menatapnya dengan sendu.

            Keesokan harinya undangan reuni SMA baru saja ia dapatkan dari tukang pos. Ara terdiam tidak tahu ia harus bereaksi seperti apa. Pikirannya kembali membawanya ke masa lampau, membawa ketakutan Ara datang kembali. Melihat Ara yang terdiam di teras, ibu datang untuk mengejutkan Ara dari lamunannya.

            Menangis, Ara meneteskan air matanya membuat ibu terkejut. ”Wah undangan apa ini Ara? Kenapa kau malah menangis?” tanya ibu

            “Ah, Bu ini ada undangan reuni SMA untukku. Tetapi aku ragu untuk ikut atau tidak,” jawabnya sambil mengusap air mata dan tersenyum getir.

            “Kenapa kau ragu?”

            “Aku takut bertemu dengan mereka lagi . Satu tahun sudah berlalu dan aku masih belum bisa menghilangkan ketakutanku”

            Mendengar jawaban Ara ibu berujar lembut “Kalau kau takut bertemu dengan mereka, kapan kau bisa belajar untuk mengendalikan dirimu?” Ara masih tenggelam dalam pikirannya membuat ibu mengelus rambutnya pelan. “Coba kau pikirkan Ara, disini kau menangis karena ketakutan pada sesuatu yang bahkan belum terjadi. Kalau kau seperti ini terus, lalu kapan kau akan mengatasi ketakutanmu itu? Apakah kau tidak mau belajar mengatasinya? Kau bisa mulai belajar mengatasinya dengan mengikuti reuni itu. Percayalah kau pasti bisa melakukannya Ara.”

            Ara yang semula menunduk mendongakkan kepalanya dan menatap Ibunya lekat, “Benar juga ya Bu, tapi bagaimana kalau disana aku membuat kesalahan?”

            “Hei, jangan lupa kau punya Rani yang bisa kau percaya untuk menemanimu. Jika kau melakukan sesuatu yang diluar kendalimu, Ibu yakin Rani akan membantumu saat itu juga.”

            “Baiklah Bu, aku akan berangkat reuni dengan Rani” kata Ara dengan tersenyum manis.

            Hari-hari telah terlewati dan sekarang adalah waktunya reuni SMA Ara. Rani sudah datang dan sedang menunggu Ara untuk bersiap sembari memainkan ponselnya. Ibu datang duduk di samping Rani lalu berkata, “Terimakasih Rani sudah mau menemani dan selalu bersama Ara” Mendengar ucapan ibu, Rani tersenyum dan menjawab “Tidak Bu, itu sudah kewajibanku sebagai teman Ara untuk selalu bersamanya. Aku berjanji akan menjaganya nanti disana”

            “Ayo Ran, kita berangkat sekarang. Bu aku berangkat sekarang ya. Doakan aku bisa mengendalikan diriku”

            “Tentu saja, kalian berdua hati-hati ya”

            Setelah ucapan itu mereka bergegas memasuki taksi online yang sudah mereka pesan. Saat berada di dalam taksi Ara tidak hentinya bergerak-gerak gusar. Keringat juga menetes dari pelipis Ara. Melihat tingkah Ara, Rani sudah paham bahwa Ara sedang ketakutan sekarang.

            “Ara tenangkanlah dirimu dulu oke?”

            “Baiklah aku akan mencoba”

            Beberapa menit kemudian tibalah mereka di tempat reuni. Tubuh Ara terdiam kaku lagi di depan tempat itu. Kakinya seolah enggan untuk melangkah. Tubuhnya bergetar sendiri dan akan jatuh jika Rani tidak menyadarkannya.

            “Ara tenanglah aku disini bersamamu. Ayo kita masuk”

            “Baiklah ayo”

            Mereka memasuki dengan langkah mantap dan Ara masih bisa mengendalikan dirinya sampai temannya dulu Devi menyapa mereka. ”Hai Ara apa kabarmu? Lama aku tidak berjumpa denganmu” Tubuh Ara bergetar, kakinya lemas seolah tidak mampu menahan berat badannya. Dengan tubuh yang bergetar ia memberanikan diri ia menjawab pertanyaan Devi “Oh hai Devi aku baik-baik saja.”

            Melihat gelagat Ara yang sudah ketakutan Rani hendak menariknya pergi menjauh dari Devi sebelum pertanyaan dari Devi lebih dahulu menghentikannya.

            “Kenapa kau tidak pernah terlihat setelah kelulusan? Ara siswa teladan angkatan kita”

            Teman-teman disekitarnya yang semula tidak peduli menjadi tertarik dan menatap kearah mereka. ”Rani kenapa mereka melihat kesini dengan tatapan seperti itu? Aku takut, tolong bawa pergi aku dari sini” lirih Ara sembari menunduk dan menahan kakinya agar tetap mampu menahan tubuhnya yang bergetar hebat.

            “Maaf Devi, aku dan Ara akan pergi keluar sebentar”

            “Tapi Ara belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau tidak ingin berbincang lebih lama denganku:”           

            Ara yang melihat reaksi orang-orang disekitarnya. Mereka mendadak menatapnya dengan sinis, mengingatkan Ara pada masa SMAnya. Cukup, Ara sudah tidak bisa menahannya lagi. Tubuh Ara bergetar hebat dan akhirnya meluruh ke lantai. Ia menangis ketakutan.

            Rani terkejut apalagi orang-orang disekitar mereka. Rani dengan cepat membawa Ara untuk keluar tempat itu dan langsung mengajak Ara masuk ke taksi. Didalam taksi Rani masih berusaha menenangkan Ara yang tubuhnya masih bergetar.

            “Kenapa mereka selalu menatapku seperti itu? Apa dulu mereka belum puas menatapku dengan tatapan itu?”

            “Ara dengarkan aku, tenanglah dirimu lebih dulu. Apa kau mau membuat ibumu khawatir melihatmu seperti ini lagi?”

            Ara mendongak melihat keluar kaca taksi, sebentar lagi mereka akan sampai rumah Ara. Ara menghapus air matanya dan berusaha untuk tenang sebelum bertemu ibunya.

            Turun dari taksi Rani yang masih ragu dengan keadaan Ara berusaha untuk menjaga Ara dari belakang. Takut Ara masih bergetar dan tidak kuat berjalan. ”Aku tidak apa Rani tenanglah. Oh ya jangan ceritakan masalah tadi pada ibuku ya. Aku takut ibu akan khawatir padaku. Kau boleh langsung pulang Rani. Terima kasih karena sudah menemaniku dan maaf kalau aku merepotkanmu,” ucap Ara dengan seulas senyuman.

            “Baiklah Ara aku akan pulang. Tenangkan dirimu ya” Setelah mengucapkan itu Rani memasuki taksi dan meninggalkan Ara di halaman rumahnya. Ara memasuki rumah dengan senyum yang ia buat agar ibu tidak mengkhawatirkannya. ”Kenapa cepat sekali kembali Ara?” tanya ibu dengan terkejut.

            “Tidak apa-apa ibu,aku hanya ingin cepat pulang lalu tidur. Aku masuk kamar dulu ya bu”

            “Baiklah, tidurlah Ara”

            Memasuki kamarnya Ara kembali memikirkan kejadian di reuni tadi. Apakah dulu ia begitu bersalah sampai semua orang mengingat kejadian satu tahun lalu. Sungguh Ara ketakutan, apalagi melihat mereka menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah bisa membunuhnya. Tubuhnya kembali bergetar, air matanya tidak bisa lagi ia tahan.

            Ara sangat lelah hari ini. Setelah mandi ia memutuskan untuk langsung tidur. Ia pikir ia akan lebih tenang saat bangun nanti. Ara menutup matanya yang sembab dan perlahan masuk kedalam alam mimpinya.

            “Hai Ara kenapa kau diam saja? Kau mau ikut aku ke kantin tidak?”panggil Rani yang sudah berdiri didepan mejanya.

            Ara melihat sekitarnya, ia merasa kebingungan dan terkejut. “Kenapa aku ada disini dan kenapa aku memakai seragam SMA?” tanya Ara dalam hati. Terkejut tentu Ara terkejut. Kenapa ia bisa kembali ke masa ini. Belum selesai dengan kebingungannya, tiba-tiba Rani sudah menarik tangannya menuju kantin. Disepanjang jalan ia melihat orang-orang menatapnya sinis seperti dahulu dan membuat Ara cukup ketakutan tapi ia berusaha untuk tenang.

            Menunggu Rani selesai memesan makan mereka. Ara kembali larut dalam pikirannya. Memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini dan bagaimana ia bisa keluar dari kebingungan ini. Pikiran Ara terus melayang sampai ia menemukan kesimpulan. Mungkin ini adalah kesempatan untuk Ara melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan dulu.

            “Ara ini pesananmu,” ujar Rani sambil menaruh sepiring batagor di depannya. ”Ara apakah kau tidak lelah menjadi cibiran satu sekolah?” Ara yang mengerti arah pembicaraan Rani terdiam sejenak dan akhirnya menjawab “Tentu aku lelah Rani, apakah aku salah jika para guru selalu mengandalkanku?”

            “Tentu kau tidak salah Ara, apalagi kau menjadi siswa teladan tahun ini. Aku yakin mereka hanya iri soal itu”

            “Tetapi kenapa mereka selalu menatapku dengan benci dan tak jarang mengolok-olokku. Mereka bilang itu hanya suatu candaan. Tapi hatiku selalu sakit saat mendengar mereka melontarkan cibiran yang mereka sebut candaan itu”

            Devi datang dengan cerianya ke meja Ara. ”Hai murid teladan tahun ini, kau dipanggil Bu Suti sekarang” ucapnya. ”Mungkin Bu Suti akan memberikanmu bocoran soal ulangan besok karena kau kan murid kesayangannya,” sambung Devi dengan berbisik lalu tertawa keras “Hahahaha aku hanya bercanda Ara kenapa wajahmu begitu. Baiklah aku pergi dulu murid teladan”

            “Kau lihat itukan Rani? Dia bahkan tertawa sangat keras setelah mengatakannya,” mendengar ucapan Ara, Rani hanya bisa mencoba menenangkan Ara.

            Setelah bertemu Bu Suti, Ara kembali ke kelasnya tentu dengan tatapan sinis orang disekitarnya dan bisikan - bisikan yang ia bisa dengar membicarakannya. Ara menahannya, menahan agar tubuhnya tidak bergetar dan tetap berjalan. Bahkan saat sampai di kelas ia dicibir “Apakah kau mendapat bocoran soal untuk ulangan besok Ara? Hahahahaha aku hanya bercanda Ara”

            “Tentu saja dia tidak mendapatkannya. Dia kan murid teladan jadi guru sudah percaya dia akan bisa ulangan besok tanpa memberinya bocoran soal”

          “Hai Ara kalau kau mendapat bocoran soal berbagilah dengan kami jangan kau simpan sendiri. Hahahaha”

            Cibiran yang sama seperti satu tahun yang lalu. Ara mengingatnya dengan jelas. Cibiran yang selalu ia dapatkan dulu sampai kelulusan. Sungguh itu membuat hatinya sakit. Dan bahkan membuat Ara takut untuk bertemu dengan mereka karena tatapan sinis mereka yang membuat Ara selalu ketakutan bahkan setelah kelulusan.

            Ara tidak menanggapi itu semua dan langsung duduk di kursinya di samping Rani yang sudah melihat Ara khawatir. Tiba-tiba pertanyaan dari Devi yang ikut duduk didepan Ara mengalihkan seluruh perhatian dikelas. ”Ara jujur saja apakah kabar itu benar kalau kau mendapat nilai yang tinggi karena diberi bocoran soal oleh para guru? Kau kan murid kesayangan mereka. Jujurlah kami tidak apa-apa”

            Kalau dulu ia tetap diam saja dan akan menangis saat pulang, untuk sekarang tidak lagi. Ara sudah tidak tahan. Ia mengebrak meja dengan keras dan menatap Devi dengan tajam “Apa maksudmu bertanya seperti itu Devi? Apakah aku salah jika para guru selalu meminta tolong kepadaku? Kenapa kalian semua selalu mencibirku dengan alasan itu hanyalah sebuah candaan? Apakah kalian pernah tahu apa yang aku rasakan? Pernahkah kalian berpikir positif mengapa para guru selalu mengandalkanku? Mungkin dulu aku selalu diam tapi tidak sekarang. Aku sudah lelah dengan semua cibiran kalian” Setelah mengatakan apa yang selalu ia pendam, Ara pergi dari tempat itu dan meninggalkan mereka yang hanya bisa menunduk diam.

            Ara terbangun dari tidurnya dengan keringat di pelipisnya, masih mencoba mengatur nafasnya yang tidak teratur. ”Hah apa itu tadi? Apakah aku mengatakan semuanya? Apakah tadi hanya mimpi?”

            “Ah tentu saja itu tadi hanya mimpi tetapi kenapa terasa sangat nyata” ujarnya sambil memukul pelan kepalanya. Tapi entah mengapa hari ini ia merasa sangat lega entah karena dia sudah mengungkapkan isi hatinya didalam mimpi tadi atau apa dia juga tidak tahu. Ia ambil ponselnya yang belum ia sentuh sejak kemarin. Mengecek pesan yang ia dapatkan. Tubuhnya terdiam kaku saat melihat pesan dari Devi

            Hai Ara apakah kau bisa menemuiku di kafe dekat rumahmu hari ini? Aku ingin membicarakan sesuatu.

            Setelah membaca pesan itu Ara kembali pada pikirannya yang sudah melayang jauh. Tapi sebelum terlalu jauh Ara menepis semua pikiran buruknya tentang ajakan Devi yang mendadak ini.

            “Kenapa juga aku harus takut bertemu dengan Devi? Baiklah aku akan mengiyakan ajakan Devi saja. Aku harus belajar menghilangkan ketakutanku juga dengan bertemu orang lain” ucapnya pada diri sendiri.

            Ara berangkat ke kafe yang sudah diberitahu oleh Devi dengan tubuh sedikit bergetar tetapi ia harus bisa melawannya. Sesampainya disana ia melihat Devi yang sudah menunggu dan tersenyum kearahnya. Baru saja Ara terduduk di kursinya Devi mengagetkannya.

            “Ara aku minta maaf soal di reuni kemarin. Aku tidak tahu kalau kau akan menjadi seperti itu setelah apa yang kukatakan kemarin. Aku juga minta maaf dulu aku juga sudah sering menjadikanmu bahan candaan dan membuatmu sakit hati. Aku menyesal sudah melakukan itu semua. Aku harap kau bisa memaafkanku Ara.”

            Melihat Devi yang mengucapkan permintaan maaf itu membuat Ara merasa tersentuh dan ia juga tidak tahu sejak kapan tubuhnya berhenti bergetar. Itu tandanya dia tidak merasa ketakutan lagi. Yang bisa ia rasakan hanyalah permintaan maaf Devi yang menurutnya sangat tulus.

            “Aku juga minta maaf Devi, kemarin aku harus pergi begitu saja. Tenanglah aku sudah memaafkanmu Devi” ucapnya dengan senyuman hangat.

            “Terimakasih Ara kau sangatlah baik”

            “Tapi berjanjilah Devi kau tidak akan melakukan itu lagi pada orang lain oke?”

            “Aku janji Ara,” dengan senyum merekah diantara keduanya. Ara tidak tahu apakah ketakutannya untuk bertemu teman-temannya dulu masih ada atau tidak. Tapi untuk sekarang ia merasa lega sudah bisa mengungkapkan isi hatinya meskipun itu dalam mimpi dan tubuhnya tidak bergetar lagi saat bertemu orang dari masa lalunya.

 

           

 

 

 

           

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

           

           

 

Komentar