Cerpen KATA SEPENGGAL BERUJUNG TINGGAL

 

Kata Sepenggal Berujung Tinggal

Oleh Khrisna 

 

            Sang rembulan tengah menampakkan keelokannya, ditemani dengan deru ombak yang datang dan pergi dengan merdunya. Saat yang lain telah hanyut dalam lautan mimpi, segerombolan orang ini malah baru saja menginjakkan kaki di pulau tersebut. Lebih dari 10 orang jumlahnya, baru saja diturunkan dari sebuah kapal penumpang yang nampak tua. Datang dengan kebingungan dan harapan yang mereka bawa. Kebingungan dengan pertanyaan yang sama “dimanakah mereka sekarang?”.

            “Sungguh aku tidak tahu tempat apa ini dan berapa lama kita harus menunggu kapal baru untuk membawa kita pergi dari pulau ini,” ujar salah satu perempuan di sana dengan putus asa. “Mari kita tunggu di sini sejenak, aku masih berharap bahwa pak tua yang menurunkan kita tadi tidak berbual dan kita bisa pergi ke negara seberang”. Cahaya rembulan saja yang menjadi teman mereka kali ini. Pikiran-pikiran buruk berkumpul dan tidak bisa lagi ditepis oleh otak mereka. Bahkan mereka tidak berani beranjak dari tempat mereka berkumpul karena takut. Takut kalau mereka berpisah mereka tidak akan berjumpa kembali. Terlebih lagi mereka sedang berada di pulau yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

            “Akan tetapi, jika dilihat-lihat sepertinya pulau ini berpenghuni. Jika kau bisa melihatnya, di seberang batu besar itu ada beberapa kapal nelayan yang sedang bersandar. Mungkin jika benar kita ditipu, kita bisa meminta bantuan mereka.” Ujaran itu membuat semua yang berada di situ sontak menoleh pada batu besar yang ditunjuk tadi. Benar saja di sana mereka melihat beberapa kapal nelayan bersandar. “Kau benar Citra pulau ini sepertinya berpenghuni, tapi tetap saja aku ketakutan setengah mati berada di pulau ini. Kita bahkan tidak tahu apa nama pulau ini. Ya kalau penduduknya baik hati dan mau menampung kita untuk sementara, kalau tidak? Tamatlah kita,” kali ini giliran Rudi yang berujar.

            “Heh Rudi jangan sembarangan kalau berbicara. Kau membuat kami semakin ketakutan ya,” seruan Gisel kali ini membuat yang lainnya ikut berseru. Ada yang berseru rindu dengan kampung, ingin pulang, juga ada yang mengumpati pak tua yang menurunkan mereka penipu. “Sudahlah semua, lebih baik kita menunggu sembari beristirahat sejenak. Kali saja benar ada kapal yang akan mengangkut kita nanti. Tapi jika sampai besok sore belum ada kapal yang datang, kita akan masuk ke pulau ini untuk meminta bantuan agar bisa keluar dari pulau ini bagaimana?”

            “Baiklah,” jawab gerombolan tersebut serempak.

            Esok harinya, seharian suntuk mereka menunggu kapal yang dijanjikan akan datang untuk menjemput mereka, tapi nihil tidak ada satu kapal pun yang lewat di sekitar pulau tersebut. Berbekal sisa-sisa bekal makanan yang mereka bawa dari kampung, mereka bertahan di pesisir pantai tersebut sampai petang tiba. Seperti kesepakatan yang telah dibuat kemarin karena tidak menjumpai kapal yang akan mengangkut mereka. Benar saja gerombolan anak muda yang kebingungan tersebut dengan putus asa mulai memasuki pulau tersebut. Sudah tidak dapat terhitung berapa banyak keluhan dan umpatan yang mereka keluarkan sepanjang jalan.

            Tidak lama mereka berjalan, ditemuilah sebuah gapura setinggi kurang lebih 3 meter terbuat dari kayu. Tidak ada tulisan nama wilayah apapun di atasnya seperti yang biasa mereka temui di kampung mereka. Gapura kali ini cukup sederhana dengan daun kelapa kering sebagai bagian atasnya. “Lihat teman-teman itu ada gapura di sana,” tunjuk Citra ke arah gapura itu. Sontak raut wajah mereka berubah menjadi berseri-seri berharap bahwa mereka akan segera menerima bantuan dari orang-orang yang ada di daerah tersebut. Langkah demi langkah mereka semakin mendekat pada gapura tersebut dan benar saja dari kedekatan dapat terlihat pemukiman yang terlihat sederhana. Tembok rumah yang terbuat dari kayu, tidak seperti tembok yang dibangun kokoh dari asal mereka. Melihat hal tersebut mereka semua saling menatap satu sama lain.

            Setelah memasuki gapura tersebut, baru beberapa langkah mereka sudah dihadang oleh seorang laki-laki berumur sekitar 40-an dengan badan yang cenderung pendek. Menghadang mereka dengan sebilah kayu yang dibuat runcing ujungnya. Melihat hal tersebut, rombongan tersebut mundur secara perlahan. Terkejut sudah pasti, baru saja masuk sudah ditodong dengan benda tajam saja. “Citra tolonglah kami, cobalah berbicara dengan orang ini. Kami semua tidak berani, takut,” bisik Gisel tepat di belakang Citra. Mau tidak mau ia melangkah perlahan dengan meletakkan tangannya perlahan ke depan badan seakan menahan kayu berujung runcing tersebut.

            “Kami bukan orang jahat pak, maaf jika kedatangan kami tiba-tiba dan mengagetkan bapak. Tapi kami disini tidak bermaksud jahat pak sungguh,” mendengar ucapan Citra, bapak yang menodongkan kayu tadi menurunkan kayunya secara perlahan dengan tatapan sama tajamnya dengan tadi. Tanpa kata, ia menggiring rombongan tadi ke salah satu rumah yang terlihat paling megah di pemukiman itu. Walau terlihat sederhana dengan kayu sebagai dinding dan beberapa patung sebagai hiasan di depan rumahnya, rumah itu terlihat sangat megah jika disandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya.

            Bapak yang menghantarkan rombongan tersebut secara cepat segera menjauh dari rumah itu dengan menunduk setelah menghantarkan mereka memasuki rumah tersebut. Rumah itu terlihat sangat luas pada bagian depannya, tidak ada sofa atau meja yang biasa ada di ruang tamu biasanya. Hanya ada satu kursi megah seperti tahta yang ada di bagian tengah ruangan tersebut. Beberapa saat setelah mereka memasuki ruangan tersebut, beberapa orang yang nampaknya dewasa dengan perawakan kecil seperti bapak yang menodongkan kayu runcing tadi memasuki ruangan tersebut. Salah satu dari mereka menggunakan seperti mahkota yang terbuat dari lilitan berbagai macam daun dan bahan material alam lainnya. Bisa dengan mudah ditebak jika orang itu adalah pemimpin di sini, ditambah dengan sikap orang di sekitarnya yang terlihat tunduk dan hormat kepadanya saat itu melenggang dan akhirnya duduk di satu-satunya kursi di tengah ruangan tersebut.

            “Duduk,” satu kata itu terucap oleh seorang dewasa yang berdiri tepat dibelakang tahta pemimpin tersebut. Satu kata saja sudah bisa membuat rombongan saling melirik ketakutan.

            “Siapa dan apa mau kalian datang ke sini?” lanjut orang itu tepat saat mereka semua duduk bersimpuh di lantai ruangan. Citra langsung mendapatkan tatapan dari teman-temannya, bermaksud meminta Citra untuk menjawab pertanyaan tersebut. “Maaf pak sebelumnya, nama saya Citra. Di sini saya dan teman-teman saya tidak bermaksud untuk melakukan hal jahat. Kami hanyalah orang-orang yang ditipu dan diturunkan di pulau ini. Kami juga tidak tahu kami berada di mana sekarang. Kami dijanjikan pergi ke negara seberang untuk bekerja, tapi kami ditinggalkan di pulau ini sejak kemarin tengah malam dan kami tidak tahu harus meminta bantuan ke siapa karena di sini untuk sinyal ponsel pun juga tidak ada.”

            Mendengar penjelasan Citra, ketua mereka terlihat mengangguk-angguk pelan kemudian berbisik seperti sedang berdiskusi dengan beberapa orang yang berada di sisinya. Setelah tatapan mata mereka kembali pada Citra dan teman-temannya, tetapi tatapan kali ini berbeda, seperti menilai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Orang-orang dengan pakaian sederhana dan beberapa tas besar bawaan mereka. Wajah lusuh dan kelelahan karena terus menunggu dan tidak mandi hampir 2 hari.

            Mereka kembali berdiskusi dengan berbisik membuat gerombolan pemuda pemudi tadi saling menatap dengan alis mengerut. ”Jadi apa yang kalian harapkan dari kami?” Kali ini giliran Gisel yang menjawab, “jika bapak-bapak sekalian berkenan, kami ingin meminta bantuan untuk menghantarkan kami ke pulau seberang tempat kami berasal”. Jawaban tersebut membuat mereka kembali berdiskusi sejenak.

            “Baiklah kami akan membantu kalian, seminggu lagi orang kami akan pergi ke pulau seberang untuk menjual hasil bumi pulau ini. Kalian boleh menumpang kapal itu untuk kembali ke daerah asal kalian,” kali ini jawaban dari ketua daerah tersebut membuat Citra dan teman-temannya saling menatap dan tersenyum bahagia.

            “Tapi..,” kata itu membuat Citra dan teman-temannya berhenti tersenyum dan kembali saling melirik berharap.

            “Selama seminggu di sini kalian harus membantu warga kami untuk mengelola pekerjaan kami di sini. Apa kalian bersedia? Jika tidak silakan kalian mencari cara sendiri menyebrangi lautan yang luas ini,” tanpa pikir panjang lagi Rudi menyaut “ kami bersedia tuan.” Membuat teman-temannya menatapnya tidak percaya. Beberapa dari mereka berbisik Rudi menanyakan apa yang telah ia lakukan tanpa berdiskusi dengan yang lain.

            “Baiklah, kalian boleh menetap di sini selama minggu ke depan dengan kesepakatan yang telah kita buat. Untuk para wanita dapat menempati rumah saudari Wena di sebelah kanan rumah ini, sedangkan untuk para pria dapat menempati rumah saudara Koce di sebelah kiri. Setelah ujaran tersebut, rombongan pemuda yang tersesat tersebut bergegas menempati rumah yang akan mereka tempati untuk seminggu ke depan.

            Benar saja hari-hari mereka setelah hari itu berjalan sesuai kesepakatan mereka di awal, yaitu mereka membantu orang-orang di pulau ini untuk melakukan berbagai macam perkerjaan. Mulai dari sebelum matahari terbit mereka telah dibangunkan untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti berkebun, beternak, mengolah hasil bumi, bahkan mencari ikan di laut. Biasanya para wanita di pagi akan beternak bersama para wanita lain penghuni pulau ini. Setelah hari itu mereka tahu alasan kenapa pemukiman ini terlihat sepi saat matahari masih bersinar. Jawabannya adalah mereka semua keluar dari rumah untuk bekerja bahkan anak-anak juga telah diajarkan untuk melakukan berbagai macam pekerjaan. Orang-orang pada pemukiman tersebut juga menerima mereka sangat baik. Di tengah pekerjaan, mereka kadang juga berbincang dan bercanda satu sama lain.

            Hari mereka berjalan dengan yang diharapkan. Tidak ada yang mereka keluhkan pada awalnya. Tapi hari itu, cuaca sedang panas-panasnya, sedangkan para pria harus mencari ikan di laut bersama beberapa nelayan di sana. Rudi berangkat menuju pesisir dengan raut wajah yang muram. Bahkan saat sedang mencari ikan di laut lepas, Rudi sering menggerutu dan berbicara dengan ketus. “Kenapa hasil tangkapanmu hari ini sangat sedikit nak?” tanya seorang nelayan kepada Rudi saat ia dan teman-temannya baru saja menyandarkan kapal nelayan. “Ya bagaimana lagi dapatnya hanya ini pak,” jawab Rudi dengan ketus.

            “Apakah tadi kau berlayar sampai ke daerah sana seperti yang ku katakan tadi?” ucap nelayan tua itu sembari menunjuk lautan lepas. “Tidak, hari ini sangat panas dan jika aku berlayar ke sana aku akan mati kepanasan dan tidak bisa kembali lagi. Tidak seperti kalian yang kecil dan bisa terlindungi layar kapal. Lihat aku,” jawaban ketus dari Rudi membuat teman-temannya memukul pelan kepalanya, mencoba menyadarkan Rudi apa yang telah ia lakukan. Rudi yang mendapat perlakuan tersebut dengan cepat menoleh, “aw sakit apa yang kalian lakukan.”

            Raut wajah nelayan tua tersebut berubah dengan cepat. Sepertinya sebentar lagi ia akan murka. “Kenapa kau malah marah-marah kepadaku anak muda? Perhatikan nada bicaramu kau hanya tamu di sini ingat posisimu,” mendengar ucapan ketus dari salah satu nelayan di sana membuat Rudi tersulut emosi. “Aku?” jari telunjuk Rudi menunjuk kepada dirinya sendiri. “Aku hanya mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi pak tua. Kalian memperlakukan kami seolah-olah kami adalah pembantu kalian. Sungguh aku sudah muak dengan semua pekerjaan ini.”

            “Maafkan rekan kami pak, teman kami mungkin tidak bermaksud untuk mengatakan itu pak. Kami sungguh meminta maaf untuk apa yang telah dikatakan oleh tema-,” belum sempat menyelesaikan kalimatnya Rudi buru-buru memotongnya, “asal kau tahu pak tua aku sungguh-sungguh mengatakan itu tadi. Kalian semua merepotkan toh ikan yang sudah aku dapatkan juga sudah cukup jika untuk makan kalian”. Setelah itu terjadi perdebatan sengit yang terjadi antara Rudi dan teman-temannya tanpa melirik ke arah para nelayan dengan tatapan yang siap melemparkan Rudi ke laut lepas. “Kau temui ketua sore nanti dan baru akan diputuskan bagaimana nasibmu nanti anak muda. Sekali lagi aku ingatkan kau anak muda, kau hanya tamu di sini dan jika kau tidak menghormati apapun di sini, lebih baik kau enyah dari tempat ini,” setelah itu nelayan-nelayan tadi meninggalkan Rudi dan teman-temannya dengan ketakutan setelah mendengar kalimat itu terucap.

            Kabar Rudi yang berdebat dengan nelayan tadi tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Sore hari sesuai dengan apa yang dikatakan oleh nelayan tadi, Rudi menghadap ketua dengan tatapan menunduk ketakutan. Perlu beberapa pukulan di pipinya untuk menyadarkan apa yang sudah ia katakan pada nelayan tua tadi. Ia pun sudah pasrah dengan apapun hasil yang akan ia dapatkan nanti.

            “Kau pemuda angkuh, berlutut,” ketus salah satu ajudan dari pemimpin ini. Setelah berlutut tak alam kemudian pemimpin mereka masuk dengan tatapan tajam tepat pada Rudi. Orang-orang yang berada di situ pun tahu jika suasana tiba-tiba berubah menjadi menegangkan. “Kami akan memberikan 2 pilihan kepadamu sesuai dengan aturan adat yang kami miliki. Kau dapat memilih. Bukankah kami sangat baik dengan memberikan orang sepertimu pilihan?” ketus sang ketua.

            “Jadi kau pilih untuk mengabdi pada daerah ini sampai waktu yang tidak bisa ditentukan atau kau mau untuk kami untuk mengusirmu dari daerah ini dan pikirkan sendiri jalanmu kembali pulang karena kami hanya akan menyeretmu ke ujung pulau ini. Kau mungkin bisa berenang kembali pulang ke asalmu jika saja kau dapat bertahan,” pilihan yang dilontar oleh ketua tadi sontak membuat semua orang di sana terutama Rudi keringat dingin.

            “Apa jawabanmu? Kami tidak punya waktu untuk berdiskusi dengan keparat sepertimu. Jika kau tidak segera menjawab kami sendiri yang akan melemparmu keluar pulau ini sekarang,” Rudi dengan segera menolehkan kepalanya ke arah teman-temannya yang berdiri di belakang sana. Semua temannya hanya bisa menggelengkan kepala dan beberapa dari mereka mengulurkan satu jari telunjuk mereka ke depan dada. Bermaksud agar Rudi memilih pilihan pertama saja. Dengan menghembuskan nafas panjang, Rudi akhirnya menatap sang pemimpin dengan takut-takut dan menjawab, “aku memilih pilihan yang pertama tuan.”

            “Pilihan yang bagus. Kau akan mulai bekerja lebih keras lagi mulai besok pagi. Persiapkan dirimu dan terimalah konsekuensi atas segala tindakanmu,” setelah mengucapkan kalimat itu sang pemimpin dan para ajudannya meninggalkan ruangan tersebut dengan Rudi yang telah luruh ke lantai terisak pelan menyesali apa yang telah ia lakukan dan menangisi apa yang akan ia lakukan mulai besok sampai waktu yang tidak bisa ia tebak.

                       

Komentar