Cerpen DIRI

 

DIRI

Oleh Khrisna 

 

            Kampus tampak masih lengah pagi ini. Tanpa ada orang yang berlalu kecuali beberapa petugas kebersihan yang sedang menjalankan tugasnya. Akan tetapi, pemuda itu sudah hadir di kampus pagi ini. Terduduk ia di salah satu bangku di kelasnya. Jam 9 adalah kelas pertamanya, tapi pukul 07.00 ia sudah sampai di situ dengan laptop di hadapannya dan jari yang nampak tak henti mengetikkan sesuatu. Matanya terus tertuju pada layar persegi panjang itu. Beberapa waktu ia lalui dengan sendirian, tampak tidak bergerak dari tempat duduknya. Sampai perlahan-lahan beberapa mahasiswa lain mulai berdatangan, entah untuk menghadiri kelas atau sekedar bertemu teman, tapi tempat itu terlihat mulai dipenuhi manusia.

            Derap langkah di sekitarnya tak ia hirauan, fokusnya masih terlihat sama seperti awal ia duduk di situ. Sampai tak menyadari rekannya mulai berdatangan dan duduk disebelahnya, “hei kau jadi orang pertama yang hadir lagi Leo”. Mendengar ucapan itu Leo sontak menoleh ke arah suara dengan raut terkejutnya. Akan tetapi, dengan segera ia merubah raut wajahnya menjadi tersenyum dan terkekeh. “Aku kira kau siapa, mengagetkan saja. Oh iya sudah jam berapa ini?”

            “Pukul 08.45 dan kelas akan dimulai 15 menit lagi. Aku dengar dari kelas sebelah pak dosen akan memberikan kuis mendadak minggu ini dan gila saja ia memberikan 5 soal. 1 soal saja sudah pening aku dibuatnya.” Mendengar ujaran temannya, Leo hanya tersenyum dan menjawab, “sudahlah kau seperti tidak biasa dengan kuis mendadak saja Ricky”. Ricky yang mendengar itu pun hanya terkekeh, “ya benar juga sih. Tapi aku tidak sepandai kau Leo. Aku tidak bisa mengerjakan sesuatu yang mendadak tanpa belajar terlebih dahulu.”

            Obrolan mereka terus berlanjut dan berakhir dengan benar dilakukannya kuis mendadak oleh salah satu dosen mereka. Dengan bersungut-sungut dan raut kesalnya Ricky keluar kelas setelah kelas berakhir dengan Leo yang tentu saja di sampingnya. “Bukankah benar apa kataku. 5 soal itu membuat kepalaku ingin meledak rasanya. Aku perlu self-reward kalau kata anak zaman sekarang. Ayo Leo kita pergi ke kedai kopi yang baru buka di daerah sebelah kampus. Aku dengar tempatnya sangat nyaman dan kopinya enak.” Ekspresi Ricky berubah menjadi ceria seiring menceritakan tempat baru yang ingin ia datangi itu.

            Akan tetapi, bukan sebuah jawaban yang ia inginkan yang ia dapatkan dari Leo. Gelengan pelan kepala Leo yang ia dapatkan. “Maaf Ricky mungkin lain kali. Hari ini aku harus pergi ke suatu tempat,” ujar Leo sambil melihat jam di pergelangan tangannya. “Oh ayolah Leo selama 2 tahun kita berteman kita sangat jarang pergi nongkrong. Kau selalu saja sibuk, tapi tak apalah aku juga tidak bisa memaksamu,” jawab Ricky pasrah. Sebenarnya Ricky pun masih tidak bisa memahami mengapa Leo selalu saja menolak ajakannya untuk sekedar nongkrong atau pergi ke suatu tempat. Selalu saja Leo akan langsung pulang atau ada acara setelah selesai kelas. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memaksa Leo dan menghargai temannya satu itu. Mereka pun berpisah di situ dengan tempat tujuan mereka masing-masing.

            Hari-hari berlalu seperti biasa. Leo yang masing menjadi orang yang datang paling awal dan orang yang selalu langsung pulang setelah kelas selesai. Seluruh temannya pun sepertinya sudah memahami hal itu meskipun masih bertanya-tanya tentang apakah yang ia lakukan sampai terlihat sangat sibuk. Tidak jarang pula mereka saling menanyakan satu sama lain mengapa Leo terlihat sangat sibuk seperti itu. “Leo langsung pulang lagi. Sudah 2 tahun kita berteman tapi kita tidak tahu apa yang ia lakukan setelah kelas berakhir selama 2 tahun ini. Ia orang yang asyik, terkadang aku ingin menahannya di sini untuk berkumpul lebih lama bersama kita,” ujar Dani, salah satu teman Leo selama 2 tahun tahun terakhir.

            “Aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang ia lakukan. Tapi ia selalu terlihat sibuk, terlebih lagi ia selalu berangkat paling awal dan entah mengerjakan apa di laptopnya hingga berjam-jam. Salah satu petugas kebersihan pernah memberi tahuku ia Leo sering berangkat satu sampai dua jam sebelum kelas dan selalu sibuk dengan laptopnya,” kali ini perempuan cantik bernama Nia menimpali. “Tapi aku pikir Leo tidak mengikuti kegiatan atau organisasi apapun di kampus. Lalu apa ya yang kira-kira ia lakukan? Eh tapi kenapa kita malah membicarakan Leo hahahahaha,” tawa Ricky dan lainnya kali ini mengudara menyadari tindakan mereka.

            Pagi ini agak berbeda dengan pagi yang lainnya. Leo yang biasanya datang paling awal belum datang ke kelas 15 menit sebelum kelas dimulai. Hal ini pun membuat teman-temannya bertanya-tanya, pasalnya hal ini bukan terlihat seperti Leo sama sekali. Menit demi menit terlewati dan tepat saat dosen masuk ke dalam ruangan, Leo ada di sana. Teoat di belakang dosen yang akan mengajar dengan raut wajah lesu dan kusut. Tepat saat baru saja terduduk di bangku sebelah Dani, pertanyaan terlontarkan untuk Leo. “Tumben sekali kau baru datang Leo dan kenapa kau terlihat begitu lesu?”

            “Aku tidak apa-apa, santai saja aku hanya kesiangan tadi,” jawab Leo dengan senyum tipis yang menghiasi wajah letih dan lesunya. Dani yang mendengar jawaban itu pun hanya bisa mengangguk dan kembali memberi fokus pada kelas hari itu. Setelah kelas berakhir kali ini pun Leo masih menjadi Leo yang seperti biasanya, Leo yang langsung pulang begitu kelas berakhir. Namun, ada perbedaan yang mencolok kali ini. Leo yang biasanya pergi dengan senyum di wajahnya kali ini menghilang. Tergantikan Leo yang terkesan buru-buru dan raut wajah yang kelihatan tidak bersahabat. Alis mengkerut, dengusan lelah yang keluar dari mulutnya, dan tampang yang masam dan lesu. Terlihat lelah dan kesal dalam waktu bersamaan.

            Hari hari berikutnya pun masih sama, Leo tidak pernah datang menjadi yang pertama lagi di kelas. Ia malah menjadi Leo yang sering terlambat dengan tampang sayunya dan terlihat kelelahan. Tidak jarang juga ia tertidur di kelas dan mendapat teguran dari dosen yang sedang mengajar. Leo mendadak menjadi orang linglung dan pelupa. Hari ini adalah puncaknya, kelas usai lebih awal dari biasanya hari itu. Banyak mahasiswa yang masih berada di kelas untuk berbincang sebentar. Sama halnya dengan Leo dan teman-temannya yang kali ini kebetulan sekali masih terduduk bersama hanya untuk sekedar berbincang dan melontarkan candaan. Tapi ada sesuatu yang tidak Leo sadari, hari ini ia terlihat sangat pucat dan letih. Walaupun begitu ia masih menanggapi ataupun merespon orang yang mengobrol padanya dengan suaranya yang terdengar lemas.

            “Leo hidungmu mengeluarkan darah. Kau mimisan!” seruan terlontar dari mulut Nia dan sontak melihat setiap orang yang di sana menoleh pada Leo dan benar saja hidungnya mengeluarkan darah segar. Leo pun sama terkejutnya dengan mereka yang di sana. Ia dengan otomatis mengarahkan tangannya ke hidungnya dan benar saja ia menyadari bahwa ia mimisan. Setelah meraih tisu yang disodorkan Nia padanya, ia buru-buru menyeka darah yang keluar dari hidungnya. “Aku tidak apa-apa teman-teman tidak perlu khawatir. Sebentar lagi darah ini juga pasti akan berhenti.”

            Teman-temannya saling bertukar pandang dengan raut wajah khawatir dan panik. Pasalnya Leo dikenal jarang sekali sakit, tapi sekarang pemuda itu terlihat sangat pucat dan ia mimisan. “Leo sebaiknya kita ke klinik kampus saja. Kau terlihat sangat pucat. Kami khawatir padamu”. Baru saja Leo ingin menjawab, salah satu rekannya menyela. “Oh ayolah Leo untuk kali ini saja kau menurut pada kami. Kau terlihat sangat pucat jangan mengelak lagi kita pergi ke klinik sekarang”. Tapi belum sempat menjawab, rekan-rekannya buru-buru menarik lengan Leo untuk menyeretnya ke klinik. Mereka harus melakukan ini karena mereka tahu Leo akan selalu menolak dengan berbagai alasan pengelakan lainnya.

            Tarik-menarik tidak dapat terhindarkan lagi. Leo yang masih meronta lemas dan mengatakan ia tidak apa-apa dan rekannya yang tetap keras kepala menarik Leo untuk pergi ke klinik. Akan tetapi, baru setengah jalan Leo terlihat tiba-tiba berhenti dan membuat teman-temannya kebingungan. Tapi tak lama kemudian Leo ambruk dan membuat orang-orang sekitarnya semakin panik. Leo pingsan. Hal itulah yang mereka pikirkan. Tak tunggu lama lagi, mereka buru-buru membawa Leo ke klinik kampus mereka. Kepanikan tidak dapat terelakkan lagi. Keringat mulai bercucuran di dahi mereka.

            Setelah menerima penanganan awal dari petugas di klinik. Dokter yang menangani Leo keluar untuk menemui teman-teman yang membawa Leo tadi. “Kalau boleh tahu bagaimana awalnya dia bisa sampai pingsan seperti ini apakah ada yang tahu?” tanya dokter klinik itu. “Sudah beberapa hari ini ia terlihat pucat dan kelelahan Bu. Tadi pagi ia tampak lebih pucat dan akhirnya setelah kelas tadi ia mimisan. Saat setengah perjalanan kami membawanya ke sini ia malah pingsan”. Mendengar jawaban dari Ricky dokter itu mengangguk pelan dan kembali bertanya, “apa kalian ada yang tahu apa yang ia lakukan akhir-akhir ini?”

            “Untuk itu kami tidak tahu bu. Tapi ia terlihat sangat sibuk dan selalu buru-buru pulang setelah kelas berakhir”. Jawaban itu membuat dokter itu mengangguk pelan dan kembali masuk ke dalam ruangan tempat Leo di rawat. Tidak lama kemudian, dokter itu keluar lagi, “saya pikir teman anda sangat kelelahan sehingga ia mimisan dan pingsan. Ia tidak apa-apa kita hanya tinggal menunggu ia bangun. Nanti kalau ia sudah bangun tolong panggil saya ya? Dan kita bisa tahu ia kenapa”.  Anggukan sebagai tanda persetujuan dokter itu dapatkan.

            Mereka memasuki ruangan tempat Leo dirawat dengan cemas. Raut pucat masih menghiasi wajah Leo. Dalam ruangan itu pula mereka memperbincangkan berbagai kemungkinan tentang apa yang dilakukan oleh Leo sampai kelelahan dan di pingsan serta mimisan tadi. Mulai dari kelelahan bekerja, tugas menumpuk, sampai masalah keluarga mereka tebak. Berjam-jam mereka disitu pada akhirnya Leo pun bangun juga. Nia yang pertama kali melihat Leo membuka mata pun bersorak bahagia dan bergegas mendekati ranjang Leo. “Kau tak apa Leo? Apakah ada yang sakit? Apa kepalamu pusing? Apa kau..” belum sempat kalimat selanjutnya terucap, Ricky buru-buru memotong ucapan Nia. “Dia baru saja bangun Nia jangan buat ia pingsan lagi dengan menjawab banyak pertanyaanmu itu.” Mendengar itu Nia hanya bisa berdecak kesal.

            Tidak lupa pula mereka memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Leo. “Bagaiman perasaanmu Leo?” Leo yang diberi pertanyaan seperti itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum, “lumayan”. “Kalau boleh tahu apa yang kau lakukan akhir-akhir ini? Kau terlihat kelelahan dan kata temanmu tadi kau juga sempat mimisan”. Leo hanya bisa menghembuskan nafas berat. “Ada banyak hal yang harus aku lakukan dok akhir-akhir ini. Dan mungkin aku juga sampai melupakan jam makanku. Berantakan. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk sehingga semuanya jadi berantakan”. Dokter di klinik yang mendengar jawaban itu dari Leo kemudian memberikan beberapa nasihat tentang apa yang harusnya dilakukan Leo saat kondisi seperti ini.

            Setelah lama berbincang dokter, Leo kembali dikerubungi oleh teman-temannya seakan sudah siap menyerbunya dengan bom pertanyaan. Dan benar saja berbagai pertanyaan langsung terlontar padanya. “Leo kata dokter kau kelelahan. Apa saja sih yang kau lakukan akhir-akhir ini. Oh iya kau juga pasti melupakan jam makan dan lupa minum air putih. Kau dehidrasi Leo!”

            “Leo kau tak apa? Apakah kau perlu bantuan Leo? Leo ayo kau harus makan terlebih dahulu.” Dan masih banyak pertanyaan yang terlontar pada Leo. Banyaknya pertanyaan yang ia dapatkan bukan membuat Leo kesal, ia malah terlihat terkekeh senang melihat teman-temannya yang masih khawatir dan peduli padanya walaupun ia jarang berkumpul bersama mereka. “Oke oke aku akan menjawab seluruh pertanyaan kalian. Tapi satu persatu ya”. Setelah itu Leo akhirnya setelah dua tahun ia mau memberi tahu teman-temannya tentang apa saja yang ia lakukan sehingga membuatnya selalu sibuk.

            Leo bukan hanya seorang mahasiswa biasa. Ia juga merupakan seorang pekerja keras di luar kampus. Ia bekerja di sebuah penerbit dan saat malam ia kadang-kadang juga mengambil paruh waktu dan bernyanyi di sebuah cafe. Ia tidak mau bergantung pada orang tuanya dalam mencukupi kebutuhannya saat berkuliah. Belum lagi ia mengikuti suatu kegiatan sosial dan berperan sebagai ketua pelaksana sehingga membuat Leo semakin kelelahan. Tidak lupa pula akhir-akhir ini tugas kuliah yang semakin menumpuk membuat Leo datang ke kampus lebih awal untuk mengerjakan tugas-tugasnya karena saat di kos ia merasa tidak sempat mengerjakan tugas-tugas kuliah itu karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka sampai tidak habis pikir tentang bagaimana cara Leo dapat bertahan selama dua tahun ini.

           Jawaban Leo untuk segala pertanyaan “mengapa?” yang ditanyakan teman-temannya pun hanya ia jawab, “aku ingin belajar banyak hal. Aku tidak ingin membiarkan kesempatan yang datang padaku sia-sia begitu saja. Walaupun terkadang aku juga memaksakan diri untuk melakukan banyak hal dan melupakan tentang diriku sendiri. Aku mengambil semua itu karena kupikir aku sudah pandai mengatur waktuku. Hahahaha, ternyata aku salah, aku belum sepandai itu mengatur waktuku,” kekehan pelan ikut keluar dari bibir Leo.

            “Tapi untuk belajar banyak hal kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Kau harus paham batasan dirimu. Jangan memaksakan sesuatu jika kau sudah lelah. Tidak ada salahnya istirahat untuk sejenak.”

            “Benar Leo jika kau lelah kau harus istirahat. Tidak baik mempertaruhkan kesehatanmu seperti itu. Ingat mencegah lebih baik daripada mengobati,” dan berbagai nasihat lain diucapkan teman-temannya. Leo yang mendengar itu semua kemudian berpikir sebisa mungkin untuk mengurangi sedikit demi sedikit kegiatannya dan lebih mengenal lagi batasan dirinya. “Terima kasih teman-teman aku akan mendengar kalian kali ini.”

            Benar saja apa yang dikatakan Leo saat itu. Ia menjadi pribadi yang lebih mengenal batasan dalam dirinya dan tidak pernah memaksakan diri lagi untuk melakukan sesuatu. Buktinya sekarang Leo menjadi pribadi yang lebih santai dan terkadang Leo juga berkumpul walaupun hanya sekedar berbincang dnegan teman-temannya. Ya meskipun masih ada kegiatan yang ia jalankan, tapi Leo sekarang menjadi Leo yang lebih mengenal dirinya sendiri.

 

Komentar