Analisis Puisi CIPASUNG Karya Acep Zamzam Noor

 Analisis Puisi CIPASUNG Karya Acep Zamzam Noor 

 

CIPASUNG

Karya Acep Zamzam Noor 


Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning

Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri

Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu

Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental

Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup

Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

                             

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi

Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari

Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar

Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku

Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan

Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

 

Hari esok adalah perjalananku sebagai petani

Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat

Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini

Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan

Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu yang lain

Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur

 

          Puisi karya Acep Zamzam Noor yang berjudul “Cipasung” ini memanfaatkan sarana retorik di dalamnya. Sarana retorik yang dapat ditemukan dalam puisi ini adalah ironi, dapat dilihat pada kutipan /surauku terbakar kesunyian/ yang memberikan ironi pada masa kini, yaitu surau atau tempat ibadah yang sudah mulai sunyi karena sepi akan orang yang beribadah. Aspek simile juga digunakan pada puisi ini, penggunaan simile pengandaian /seperti/ pada baris /Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri/ memiliki makna padi-padi yang sudah merunduk diandaikan seperti rambut yang selalu jatuh merunduk.

           Lirik /aku/ yang merujuk pada penulis atau dapat juga merujuk pada kita sebagai manusia, serta tokoh / –mu/ yang menggambarkan Sang Pencipta. Saat manusia yang /semakin merundukkan diri/ semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan /iman dan sajadah/ untuknya beribadah. Manusia akan terus /memanen kesabaran/ Sang Pencipta dengan melakukan berbagai macam keslaahan. Kepunahan manusia yang semakin dekat, manusia yang telah memiliki banyak dosa didalam hidupnya harus terus /dibangun/ imannya,  dengan /membuka ladang-ladang amal-amal/ yang baru.

           Diksi dengan unsur alam banyak ditemukan di dalam puisi ini, antara lain adalah /sawah-sawah/, /padi-padi/, /tumbuhan dan pohon/, /bambu/, /ladang-ladang/, dan /belantara/. Unsur-unsur tersebut semakin memperkuat suasana puisi yang cenderung ingin mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Pengumpamaan melalui unsur alam yang dipakai merupakan salah satu penggambaran bahwa manusia akan kembali ke alam karena alam merupakan lingkungan yang diciptakan Sang Pencipta untuk manusia kelola keberadaannya.

          Makna yang ditemui dalam puisi “Cipasung” ini adalah manusia yang mencoba dekat dengan penciptanya karena ironi manusia yang akan mendekati kepunahannya. Disertai dengan penggambaran siatuasi pada masa kini seperti pada larik /surauku terbakar kesunyian/ dan /Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi/ semakin membuat makna tersebut hidup di dalam puisi ini.

 

Komentar