Cerpen SUARA Karya Shaumayya

 

Suara

Karya Shaumayya

 

Hai, namaku Faizal. Aku merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Aku memiliki kakak laki – laki dan perempuan. Kami bukan berasal dari keluarga kaya raya namun ibu dan bapakku selalu mencukupi kebutuhan kami, terutama kakak laki – lakiku. Ya, sejak kecil sangat terlihat perbedaan sikap ibu dan bapak terhadap kami. Aku dan kakak perempuanku sejak kecil dipaksa selalu mengalah karena kasih sayang ibu yang sangat besar kepada kakak laki – lakiku. Aku tidak tahu itu hanya perasaanku saja atau bagaimana, namun itu yang aku dan kakak perempuanku rasakan. Begitu terlihat perbedaan. Namun kami hanya seorang anak yang berusaha untuk membuat orang tua kami bahagia, jadi kami hanya bisa diam dan menurut.

Aku dan kakak perempuanku hampir tidak pernah didengar oleh orang tua kami. Apapun yang kami rasakan, kami selalu berkeluh kesah satu sama lain. Dengan kejadian itu, aku dan kakak perempuanku jadi lebih dekat hingga saat ini dan aku juga lebih nyaman menceritakan hal – hal konyol hingga hal penting ke kakak perempuanku. Mungkin karena hal itu aku jadi merasa memiliki tanggung jawab kepada kakak perempuanku. Ya tentunya untuk menjaga kakak perempuanku.

Mungkin karena aku kurang perhatian dan apresiasi dari orang tuaku, itu membuatku sedikit nakal waktu sekolah. Itu bukan tindakan yang baik tapi sekarang menjadi cerita lucu untukku. Waktu SD, aku tidak memiliki banyak teman. Bahkan aku sering dibully karena badanku yang gemuk waktu itu. Aku dijauhi dan bahkan  di campakkan. Aku sangat sedih waktu itu, tapi aku tidak tinggal diam. Menurutku, otakku lumayan encer pada saat itu jadi aku pasti mendapatkan peringkat. Saat itu, aku mulai mendekati satu temanku yang ikut membullyku, aku memberikan jawaban pada saat ujian. Dan boomb, ternyata nilainya menjadi bagus dan dia juga mendapatkan peringkat. Sejak saat itu, teman – teman lain ikut mendekatiku demi jawaban saat ujian. Keadaan berbalik, aku menjadi salah satu orang yang disegani dan memiliki banyak pasukan. Memang sangat menyenangkan jika disegani oleh banyak orang.

Pada saat itu, aku mulai masuk ke dunia yang kurang baik karena kebebasan yang aku dapatkan dari orang tuaku. Aku merasa kurang. Terutama perihal uang saku. Saat itu aku hanya berfikir bagaimana caranya menghasilkan uang. Hingga akhirnya muncul ide jahat dari dalam pikiranku. Sore itu aku langsung berangkat menuju pasar. Aku berjalan melintasi beberapa toko yang masih buka. Orang – orang itu menjual berbagai macam barang, namun bukan itu yang aku cari. Hingga akhirnya, aku tiba di tempat yang kutuju. Toko yang berada di pojok pasar berdampingan dengan toko yang telah lama tutup. Dengan lampu kuning yang hampir redup, laki – laki setengah tua tersebut mencari uang untuk anak – anaknya atau  bahkan kedua istrinya. Ya aku tidak tahu akan hal itu.

“ Toko CD Pak Burhan”

Spanduk tulisan tersebut terlihat pas berada di bagian atas toko tersebut. Spanduk sederhana yang menandakan bahwa toko tersebut menjual CD. Woops, bukan celana dalam, tapi Compact Disk atau sering disebut kaset. Setauku, toko itu sudah lumayan lama berada dipasar dan memang cukup ramai makannya aku memutuskan untuk datang ke toko itu.

“Pak, wonten BF?” tanya ku

“Ono le, sek sedelok tak jikukne” jawab beliau dengan singkat

Tak lama kemudian si bapak keluar dari tempat persembunyiaannya dan menaruh beberapa kaset tepat di depanku.

“Yaa, ini yang aku cari” kataku dalam hati

Tak lama, akhirnya aku memilih 3 kaset untuk ku pinjam. Oh iya aku lupa memberitahu bahwa toko ini juga menerima peminjaman kaset jadi lebih mudah untukku yang tidak memiliki banyak uang jajan. Setelah aku memilih akhirnya aku bergegas ke warnet langgananku, dan mulai melancarkan aksiku.

Jadi, aku baru saja meminjam kaset bluefilm atau video porno. Memang saat itu mudah buatku untuk meminjam kaset tersebut karena mungkin Pak Burhan tidak peduli tentang siapa yang meminjam dan untuk apa orang itu meminjam hanya saja yang terpenting uang yang ia hasilkan nantinya. Aku menuju warnet langgananku untuk meng-copy kaset tersebut. Aku jadikan beberapa copy-an dan memasukkannya kedalam kaset kosong. Ya kalian tahu lah apa yang mau kulakukan dengan kaset bajakan yang kubuat itu. Tentu aku menyewakannya kepada teman – temanku dan pasukanku tadi hahaha. Saat itu, aku merasa sangat kaya. Karena bisnisku itu ramai. Namun, hanya bertahan selama satu bulan, karena kecerobohan salah satu temanku. Ia ketahuan ibunya meminjam kaset tersebut, lalu sang ibu berusaha menghubungi orang tua ku dan memberitahu semuanya. Sesampainya dirumah, ibu langsung memintaku untuk membuka tasku. Yasudah, semua terbongkar.

“Ya Allah le…le, kowe ki meh dadi opo? Meh mateni ibuk po? Ndang patenono wae saiki” ucap ibu sambal menangis waktu itu.

Aku yang merasa sangat bersalah akhirnya aku ikut menangis dan meminta maaf kepada ibu atas kegaduhan yang terjadi. Ibu sempat mendiamkanku beberapa hari namun akhirnya ibu kembali seperti semula setelah aku selalu meminta maaf kepadanya. Itu hal terkonyol yang pernah aku lakukan saat itu. Namun, cerita konyol tidak berhenti sampai disitu. Saat SMA aku masuk ke SMA teladan dan favorit dikotaku. Saat itu, aku hanya ingin membuktikan keenceran otakku dan aku masuk ke jurusan IPA. Sangat tak disangka, seorang anak laki – laki nakal sepertiku ternyata mampu masuk SMA favorit dan jurusan yang sulit. Kelas 1 dan 2 memang berjalan seperti biasa, aku masih dengan pengikut – pengikutku yang setia. Yang selalu mendukungku kapanpun dan dimanapun. Termasuk kenakalanku. Saat SMA aku mengenal yang namanya miras dan rokok. Mungkin itu hal biasa, namun tidak untukku yang memiliki image anak pintar. Orang – orang yang mengetahui kelakuanku pasti selalu bergumam

“Pinter tapi begajulan ya percuma”  

Hahahaha, ya begitulah. Saat aku mulai kecanduan miras, membuatku mengenal orang diluar lingkunganku. Aku jadi mengenal orang yang lebih tua daripada aku. Aku berfikir kalau itu adalah jalan menuju pintu kegelapan. Saat ini, aku dan teman – temanku sedang berkumpul, seperti biasa kami menghabiskan miras yang ada didepan kami dan mengobrol seperti biasa. Kebetulan saat itu, teman dari salah satu temanku ikut bergabung dan tentunya dia lebih tua daripada kami. Ternyata, dia membawa sabu. Memang dia seorang pemakai, dan aku tidak tahu kalau dia akan menawarkannya kepada kami. Beberapa temanku mau mencobanya, lalu giliran bagianku, aku berdiam diri sejenak. Memikirkan hal – hal yang akan terjadi jika aku menerimanya. Namun dilain sisi, aku merasa penasaran. Aku merupakan orang yang memiliki rasa penasaran yang besar. Aku berfikir, kalau aku terima mungkin  itu menjadi kesempatanku yang sangat aku tunggu tunggu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencobanya. Aneh. Itu yang aku rasakan pertama kali. Tapi, beberapa menit kemudian aku merasakan sensasi yang berbeda. Aku merasakan seperti melayang dan sangat tenang. Ini berbeda saat aku meminum miras. Ini lebih menenangkan dan aku suka ini. Aku jadi lebih bisa merasakan diri ku sendiri.

Saat itu, aku menjadi candu. Aku memakainya beberapa kali. Memang tidak sering karena aku masih seorang pelajar. Aku merasa lebih enteng dalam menjalani hidup. Walaupun aku tau, itu hanya kurasakan sesaat. Hingga sampai dititik dimana aku merasa aku perlu berhenti. Saat itu kakak laki – lakiku terkena kasus. Tidak lain dan tidak bukan ya kasus narkoba juga. Tapi, karena kakak ku mengkonsumsinya dalam jumlah banyak dan sesekali ia juga mengedarkannya jadi dia termasuk mangsa polisi. Saat itu, rumah di datangi beberapa polisi yang memiliki badan kekar. Tanpa basa basi polisi langsung menangkap kakakku. Saat itu yang aku rasakan hanya takut. Ya takut jika polisi menyuruhku untuk tes urine. Tapi beruntung bagiku karena hal itu tidak terjadi. Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi sabu. Aku hanya meneruskan kebiasaan meminumku saja.

Memasuki dunia perkuliahan, aku yang awalnya ingin masuk perguruan tinggi yang terikat oleh kedinasan tapi dilarang oleh ibu karena ibu tidak mau aku jauh – jauh darinya. Sebenarnya aku tau ibu memikirkan masalah biaya, jadi aku hanya bisa menurutinya dan aku akhirnya masuk perguruan tinggi negri favorit di kotaku yang digadang – gadang nomer 2 se Indonesia. Aku masuk jurusan yang jauh dari kata IPA karena aku mau dengan enjoy menjalani pendidikanku. Semester awal memang aku tidak bersemangat kuliah, namun semester 3 aku jadi lebih semangat dan aku aktif di organisasi. Bahkan, aku menjadi mahasiswa yang sangat menentang narkoba. Hahahaha, aku belajar dari pengalaman bahwa apa yang menurut kita enak dan kita menikmati itu, belum tentu menjadi sesuatu yang baik untuk kita.

Menjadi generasi muda penerus bangsa memang salah satu jobdesk yang cukup melelahkan karena diumur kita yang masih muda tingkat keingin tahuan kita memang besar. Namun, jika bukan kita yang memulai, meneruskan dan memajukan bangsa siapa lagi? Setidaknya kita sedikit berkontribusi dengan menjahui hal – hal negatif seperti narkoba.

x

Komentar