Hari–Hari Han
Karya Shaumayya
Langkah
kaki di atas tanah yang masih becek menimbulkan bekas seolah memberi tanda bahwa
jalan ini milikku. Pagi yang masih menyisakan suasana dingin ini telah
menyambutku dengan ramah. Ya, aku si anak kemarin sore yang dipaksa untuk melakukan
ini sendiri. Ini? Bukan hanya ini, namun semua. Sudah hampir satu tahun aku
berada di kota orang untuk mencari ilmu. Konon, bukan hanya ilmu namun juga
pengalaman. Hingga saat ini aku belum merasakan “pengalaman” yang dimaksud.
Setiap pagi, jalanan ini yang selalu aku lewati, bukan hanya pagi tapi setiap
saat aku ingin ke kampus. Ya, aku adalah seorang mahasiswa. Mahasiswa dimana
yang lebih dari siswa. Mahasiswa yang katanya menjadi generasi penerus,
perwakilan rakyat – rakyat kecil yang mampu melawan keanehan pemerintahan
negeri ini. Tapi, akupun tidak yakin akan hal itu. Untuk bersosialisasi saja
aku masih sangat susah hahaha.
Katanya,
jika kita sudah memasuki fase ini, kita sudah dianggap dewasa dan harus
menjalani semuanya sendiri. Tidak ada teman yang setia, mudah tersakiti karena
terlalu banyak janji manis yang diumbar, susahnya mencari nilai sempurna
seperti sedang terjadinya kerja rodi ronde ke dua. Banyak hal-hal yang sangat
mengkagetkan awalnya, dan menurutku itu sangat wajar. Karena selama 12 tahun
bersekolah dengan aturan yang ketat, lalu memulai hal baru dengan sesuatu yang
sedikit ketat namun masih bisa dilanggar. Sebenarnya banyak hal yang
mengkagetkan lainnya, seperti pengumuman beasiswa, para mahasiswa saling
berlomba menjadi mahasiswa berprestasi, pemikiran yang harus lebih terbuka dan
yang pasti persaingan yang sangat sengit antar mahasiswa. Sering terjadi teman
malah menjadi lawan. Selama hampir dari setahun aku beradaptasi dengan hal–hal seperti itu dan aku yakin masih banyak hal mengkagetkan nantinya.
Lelah
menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah – pulang kuliah – pulang membawaku
untuk memberanikan diri mengikuti organisasi. Awalnya hanya kecemasan yang ada
didalam pikiranku. Takut tidak bisa diterima teman-teman, takut tidak bisa
menjalankan tugas dengan baik dan benar, dan ketakutan lainnya yang aku tahu
bahwa itu semua aku yang membuatnya sendiri. Teman – temanku yang sudah lebih
dulu berkecimpung di dunia per-organisasian selalu mengatakan
“Gak seserem itu kok. Tenang.”
Hampir
semua temanku mengatakan hal itu. Mereka bak laki-laki yang sedang mendekati
wanita, banyak janji. Janji manis yang mereka ucapkan memang sangat sakti.
Buktinya, aku yang awalnya ragu, karena mendengar janji-janji itu dari temanku.
Akhirnya aku memutuskan untuk bergabung. Aku belum berani terjun ke tingkat
universitas dimana tempat para berkumpulnya orang-orang dari luar prodiku.
Hanya kecemasan yang akan aku rasakan jika aku memaksakan diri untuk bergabung.
Sebenarnya, ini bukan hal yang baik. Karena aku terlihat sangat tidak percaya
diri akan kemampuan diriku, tapi yaaa bagaimana. Ini adanya.
Bergabung
di himpunan mahasiswa atau sering disebut hima adalah hal yang sangat baru
untukku. Sebab, aku belum pernah mengikuti organisasi sebelumnya. Aku termasuk
tipe orang yang enggan untuk berkumpul dengan orang banyak. Aku akan lebih
memilih pulang lebih dahulu daripada harus ikut berkumpul dengan orang-orang.
Dulu, aku piker itu hanya akan membuang buang waktu saja, namun ternyata
sekarang berbeda. Aku juga memerlukan itu. Untuk kelancaran hidupku beberapa
tahun disini hahaha.
Aku
memang bukan mahasiswa berprestasi, tidak ada prestasi yang bisa ku sombongkan.
Aku bahkan masuk jurusan ini hanya karena aku menyukai suatu hal dan hingga aku
beranggapan bahwa aku memang ditakdirkan di jurusan ini. Ternyata salah.
Teman-temanku banyak yang lebih baik dari aku. Bahkan bisa ku katakana bahwa aku
ini tidak ada apa-apanya dibanding teman-temanku yang sangat hebat. Jadi,
organisasi akan aku jadikan ajang untuk mengasah diriku. Sebagai bekal katanya.
Sedikit
terkejut karena aku dipercaya masuk ke divisi inti. Aku belum memiliki
pengalaman banyak namun, aku sudah diamanahi di divisi itu. Sebenarnya sedikit
beban karena aku tidak bisa menolak dan teman-temanku juga sangat memohon jadi
yaa mau bagaimana lagi? Awalnya aku merasa keren karena masuk divisi itu. Aku
senang dan bahagia.
Aku
sudah membayangkan betapa sibuknya aku nanti disaat mulai aktif organisasi.
Mengenal orang baru dari manapun, lebih dekat dengan dosen, dan kemungkinan –
kemungkinan menyenangkan yang lainnya. Namun, ternyata salah. Hahaha. Itu hanya
khayalanku saja. Bulan pertama memang sangat menyenangkan. Tidak ada beban sama
sekali. Hingga akhirnya mulai lah program kerja yang harus dikerjakan.
Tugasku
sebenarnya tidak begitu banyak, namun memerlukan ketelitian dan keberanian
untuk melakukannya. Aku sengaja tidak memberitahu kalian, agar nantinya kalian
lebih bisa memilih dan memikirkannya.
Untukku
ini adalah hal baru yang memang sangat menyenangkan walaupun pada akhirnya
mulai muncul konflik – konflik kecil. Seperti merasa sendirian dan tidak
memiliki teman, rasa tidak cocok terhadap teman yang lain, ada beberapa sifat
teman yang susah dimengerti. Walaupun mungkin banyak ketidak cocokan yang aku
alami, tapi mau tidak mau aku harus tetap berada disini. Mereka memang
mengajarkan banyak hal terhadapku. Mereka mau menerimaku dengan baik pun
sebenarnya aku sangat beruntung. Walaupun kadang masih ada rasa kurang puas
yang kurasakan hahaha. Mungkin aku belum bisa menemukan zona kenyamananku
disini, jadi aku masih merasa kurang.
Sebagai
contoh, saat itu ada kegiatan yang lumayan besar menurutku. Oh bukan lumayan,
tapi memang besar karena itu pertama kalinya aku menjadi pengurus. Aku dan
salah satu temanku diberi amanah untuk mengurus hal yang menyangkut birokrasi.
Aku yang belum memiliki pengalaman disitu begitupun dengan temanku. Kami
berkomitmen untuk saling membantu satu sama lain. Aku pikir kami hanya bekerja
di saat sebelum acara dimulai dan setelah acara selesai. Kami juga yakin bisa
menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tapi ternyata, boom. Masalah dimulai.
Banyak komplain-komplain dari teman–temanku perihal surat menyurat. Padahal,
kami bisa melakukan tugas kami jika semua konsep sudah tersusun dan pasti. Saat
itu memang banyak masalah yang dikarenakan kurangnya komunikasi. Jadi sering
terjadi kesalah pahaman. Aku yang merasa tidak 100% salah akhirnya mencoba
untuk menjelaskan kepada mereka tetapi ada beberapa yang memang tidak bisa
menerima argumenku itu. Jadi sampai saat ini kami bisa dibilang hanya berbicara
seperlunya saja.
Aku
menyimpulkan ternyata, menjadi mahasiswa bukan hanya kebebasan yang dibutuhkan.
Semakin kita merasa dewasa maka dari situ kita harus semakin bisa memahami dan
memposisikan diri kita. Banyak hal yang tidak terduga yang nantinya akan kita
rasakan, dan dari situ kita dapat belajar bagaimana cara menyikapi situasi yang
kita alami.
Sebenarnya
ini semua tentang kesiapan kita menjalaninya. Ketika kita sudah memutuskan
sesuatu itu artinya memang kita harus siap. Kapanpun dan dimanapun. Menjadi
seorang mahasiswa merupakan tanggung jawab yang sangat besar karena itu bisa
jadi menentukan jenjang berikutnya. Selama tiga tahun menjadi mahasiswa aku
sangat menikmati semua ini, termasuk hal – hal yang sangat tidak diduga haha.
Komentar
Posting Komentar