AYU UTAMI, DARI WARTAWAN MENJADI PENULIS
Ayu Utami merupakan salah satu sastrawan perempuan terkenal di Indonesia. Penulis yang memiliki nama lengkap Justina Ayu Utami ini lahir di Bogor pada 21 November 1968. Lahir dari pasangan Johanes Hadi Sutaryo dan Bernadeta Suhartinah. Ayu Utami dibesarkan di keluarga beragama katolik dan bersekolah di sekolah swasta katolik sampai sekolah menengah atas. Kemudian Ayu Utami mengenyam bangku perguruan tinggi di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Sastra Rusia. Nama Ayu Utami mulai dikenal masyarakat luas semenjak novelnya Saman yang memenangkan sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Novel ini menuai banyak berdebatan di kalangan masyarakat karena topik utama yang dibahas cenderung tabu di masyarakat. Selain itu, Ayu Utami juga pernah meraih pengharga Prince Claus Award pada tahun 2000 dan Khatulistiwa Literary Award kategori prosa pada 2008.
Sebelum
masuk dunia kepenulisan buku, Ayu Utami berkecimpung di berbagai bidang.
Penulis perempuan ini bahkan pernah bekerja menjadi Guest Public Relation di
salah satu hotel. Setelah itu, Ayu Utami mulai menjajaki dunia jurnalistik
dengan bergerak aktif sebagai wartawan di beberapa surat kabar dan majalah,
seperti Majalah Matra, Forum Keadilan, Majalah D&R hingga menjadi penulis
aktif di kolom mingguan di surat kabar Berita Buana. Akan tetapi, saat itu
terjadi pelarangan terbit dan edar beberapa majalah dan surat kabar yang saat
itu dianggap berlawanan dengan ideologi pemerintah sehingga beberapa wartawan,
yang salah satunya Ayu Utami mendirikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) yang
akhirnya digunakan sebagai komunitas yang menentang adanya pembatasan kebebasan
pers. Dikarenakan terlarangnya organisasi ini pada masa Orde Baru, maka AJI
bergerak secara bawah tanah untuk menghindari adanya tekanan dari aparat
pemerintah dan keamanan.
Tidak
berhenti hanya di sana, pada tahun Ayu Utami 1998 memulai debutnya sebagai
penulis dengan novel pertamanya yang berjudul Saman. Pengalaman Ayu Utami dalam dunia jurnalistik ia jadikan
pendorong untuk menulis karya. Novel Saman
disebut sebagai novel yang membawa angin segar atau pembaharuan di
kesusastraan di Indonesia. Hal ini bukan tanpa sebab, Ayu Utami dianggap sebagai
penulis yang berhasil membuat topik yang tabu di masyarakat terkemas dengan
baik dalam suatu novel. Saman menceritakan persahabatan perempuan dan
mengangkat tema seksualitas dari sudut pandang perempuan yang membuat novel ini
juga menjadi novel pembawa angin segar bagi dunia sastra feminis di Indonesia.
Hal
ini membuat novel Saman tidak diragukan lagi menjadi pemenang Sayembara
Penulisan Roman terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu 3 tahun, novel
in berhasil terjual 55.000 eksemplar. Ayu Utami berpendapat bahwa menulis
merupakan proses untuk menemukan diri sendiri. Saat menulis Ayu Utami merasa ia
dapat lebih mengenal dirinya sendiri dan dapat mencurahkan apa yang ada dalam
pikiran dan jiwanya dalam media tulisan. Tulisan Ayu Utami memiliki ciri khas,
salah satunya adalah keberaniannya dalam mengangkat topik seksualitas yang
dianggap tabu masyarakat terutama dari sudut pandang perempuan.
Setelah
tahun 1998, Ayu Utami menjadi lebih aktif dalam menulis, terutama cerita
tentang perempuan. Sudut pandang feminis yang dibawa Ayu Utami dalam setiap
bukunya tidak pernah mengecewakan pembaca, selalu ada yang baru dalam setiap
tulisannya. Beberapa novel karyanya yang lain juga laku keras di pasaran,
antara lain Larung (2001), kumpulan
esai Si Parasit Lajang (2003), Bilangan Fu (2008), Monjali dan Cakrabirawa (2010), Cerita
Cinta Enrico (2012), Soegija: 100%
Indonesia (2012), Lalita (2012), Si Parasit Jalang (2013), Pengakuan: Eks Parasit Lajang (2013),
dan Maya (2014). Meskipun menjadi
penulis yang dapat dibilang aktif, Ayu Utami kini menjabat sebagai Direktur
Festival Ide dan Sastra di Komunitas Salihara Jakarta.

Komentar
Posting Komentar