Kritik Sosial : Realitas Kehidupan Prostitusi Era Pascakemerdekaan Dalam Naskah ORANG-ORANG DI PINGGIRAN JALAN Karya W. S. Rendra
Kritik Sosial : Realitas Kehidupan Prostitusi Era Pascakemerdekaan Dalam Naskah ORANG-ORANG DI PINGGIRAN JALAN Karya W. S. Rendra
Pada setiap karya W.S. Rendra pasti tidaklah jauh dari hal-hal yang dekat realita gelap kehidupan masyarakat kelas bawah. W.S. Rendra dikenal dengan tulisannya yang tidak jauh dari unsur kritik sosial. Salah satunya pada karyanya yaitu naskah drama yang berjudul “Orang-Orang di Tikungan Jalan.’’
Naskah yang ditulis W.S. Rendra pada tahun 1954 ini menunjukkan kepada pembaca naskahnya sedikit banyak tentang bagaimana realita kehidupan prostitusi pada masa itu. Kegiatan prostitusi pada jalan-jalan kecil yang dapat dilihat pada kutipan “Pada sebuah tikungan jalan kecil yang diterangi oleh lampu listrik.” Walaupun berada di tikungan jalan-jalan kecil praktik jalannya prostitusi pada zaman itu masih tetap berjalan.
Pada dekade ini merupakan dekade pertama pascakemerdekaan, aktivitas pembangunan dan perekonomian di Indonesia sedang gencar-gencarnya untuk dibangun karena pada masa awal kemerdekaan kondisi perekonomian bangsa Indonesia masih sangat memprihatinkan. Saat terjadi suatu pembangunan dimana-mana tentulah terjadi suatu mobilitas yang besar antarwilayah. Mobilitas yang besar itu mendorong masyarakat berpindah ke kota yang lebih besar untuk mencari pekerjaan.
Pertumbuhan populasi penduduk yang meningkat tersebut berdampak pada maraknya tempat-tempat baik tempat kumuh dengan gang sempit maupun tempat yaang lebih mewah yang menjelma sebagai tempat prostitusi liar yang digunakan sebagai sarang kegiatan prostitusi.
Banyak wanita yang tidak memiliki pekerjaan menawarkan dirinya pada para lelaki yang mayoritas pekerja kala itu demi mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Seperti dengan berdiri pada suatu jalan untuk menjajakan diri atau melalui jasa muncikari. Fenomena tersebut terus meningkat seiring meningkatnya laju pertumbuhan penduduk.
Fenomena tersebut juga terjadi di Yogyakarta sebagai mantan ibukota Indonesia. Banyaknya pendatang menjadi pekerja seks membuat fenomena prostitusi di Yogyakarta semakin meningkat pada kala itu. Fenomena serupa terjadi di Solo sebagai salah satu kota di Indonesia yang mengalami pertumbuhan tersebut. W.S. Rendra melihat fenomena di sekitarnya kala itu kemudian menuliskan salah satu pemikirannya tentang dunia itu pada naskah ini.
Di dalam
naskah itu juga tertulis tentang wanita dengan lelaki yang sedang melakukan
kegiatan tersebut yang bisa dilihat pada dialog
Perempuan : Kau sudah beristeri, mas ?
Lelaki : Apa bedanya sudah atau belum ?
Juga dapat terlihat pada dialog
Perempuan: Aaii, jangan kau patahkan rusukku.
Lelaki : Bukankah kau tadi biang kedinginan ? terlalu keraskah aku memelukmu ?.
Perempuan: (sambil menguap) Apakah tidak lebih baik kita lekas pergi tidur ?.
Lelaki : Alangkah bijaksananya engkau.
Kutipan “Pada
sebuah tikungan jalan kecil yang diterangi oleh lampu listrik” menjelaskan bahwa
jalan-jalan kecil kecil dapat menjadi salah satu sarang prostitusi kala itu
yang kemudian dituliskan W.S. Rendra dalam naskah ini semakin menjelaskan bahwa
W.S. Rendra menuliskan karya ini setelah melihat fenomena yang berkembang disekitarnya
kala itu. Dalam naskah tersebut juga tersirat kritik sosial akan maraknya
kegiatan prostitusi kala itu sehingga di jalan-jalan kecil pun masih dapat
dijumpai.
Komentar
Posting Komentar