Konflik Batin Tokoh Utama dalam Cerpen RAHASIA KELUARGA Karya Okky Madasari

 Konflik Batin Tokoh Utama dalam Cerpen RAHASIA KELUARGA Karya Okky Madasari


Konflik batin yang dialami tokoh utama yaitu Wisang, diawali dengan saat Wisang mendapati kenyataan bahwa kekasihnya, Maya berpelukan dengan pria lain di belakangnya. Bukti berupa foto semakin menambah kekecewaan atas penghianatan Maya kepadanya. Dan yang dilakukan Wisang hanyalah diam dan termenung dengan meluapkan kesedihannya dengan membuat lukisan foto Maya yang sedang berpelukan dengan lelaki lain. 


Ternyata bukan itu saja yang menjadi kenyataan menyedihkan bagi Wisang. Suatu sore, ia mendengar pertikaian ayah dan ibu di taman belakang rumah. Yang tidak lain adalah meributkan tentang kebenaran diri Wisang. Siapakah ibu kandung Wisang dipertanyakan. Hal tersebut membuat Wisang menjadi tertekan. Karena seolah tidak mengetahui apapun tentang dirinya sendiri.


Dari kedua hal tersebutlah konflik batin menghampiri diri Wisang. Kenyataan menyedihkan yang datang berurutan membuatnya terkejut. Orang-orang terdekat yang Wisang sayangi menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan di belakangnya. Ditambah kecemasan yang dideritanya membuat konflik batin didalam diri Wisang semakin menjadi-jadi. Hal tersebut membuat Wisang semakin tertekan dan seolah bingung harus melakukan apa.


Pada akhir cerita, Wisang nampak sangat tertekan dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pikirannya seolah kacau. Dalam kutipan:

 Inilah objek lukisanku yang sedang kugarap sekarang. Kuambil dari salah satu foto yang diberikan Maya sepulang menonton konser minggu lalu. Mungkin dia lupa menghapus foto itu. Aku tersenyum getir. Suara ayah dan ibu yang masih bertengkar, nafas halus Maya dan pria misterius yang didekapnya, teriakan ribuan penonton konser musik, terus berdatangan menerjang. Semua berjejalan mengacak-acak otakku yang kini perih meradang(Rahasia Keluarga, 2020:4)


Dituliskan bahwa Wisang mengalami suatu kekacauan dalam pikirannya. Semua kenyataan menyedihkan yang menghampirinya seolah berhasil mengacak-acak otaknya

Komentar