UNTUK IBU
Karya Khrisna
ADEGAN
1
Langit
masih menunjukkan jingganya. Seolah enggan berjumpa dengan petang, sepasang
pemuda-pemudi masih terduduk di teras rumah sederhana samping berpegang tangan
erat. Tidak lupa yang tetap terlihat cantik di usianya yang berada di
penghujung kepala empat itu sebagai pengawas kedua insan berbeda jenis
tersebut.
Nona (senyum-senyum)
Mas Pacar : “Ku lihat-lihat dari tadi senyum
terus, kenapa?”
Nona (sambil mengoyangkan genggaman
keduanya pelan) : “Aku hanya suka saja”
Mas Pacar (raut bingung) : “Suka apa? Apa kamu
tidak sedih setelah langit petang kita harus berpisah?”
Nona (raut wajah ikut sedih, tetapi dengan cepat menjadi
ceria) : “Iya sedih, tapi aku senang sekali kamu akhirnya mau jalan-jalan
denganku. Biasanya kamu hanya sibuk kerja saja”
Mas Pacar (sembari mengelus pelan rambut
kekasihnya) : “Namanya juga sedang usaha sayang buat bahagiakan kamu juga nanti
kan?”
Nona (senyum-senyum) : “Hehe iya deh”
IBU KELUAR
DARI BALIK PINTU DEPAN. LANGIT SUDAH KELIHATAN PETANG.
Ibu (sambil tersenyum hangat) : “Hayo sudah malam loh”
Nona : “Yah, ibu sebentar deh. Sebentar lagi”
Ibu : “Iya tidak apa-apa, tapi jangan lama-lama ya”
IBU KEMBALI
MASUK KE RUMAH
Mas Pacar (menatap kekasihnya dan tersenyum
kecut) : “Aku pulang dulu ya?”
Nona (bergerak memeluk kekasihnya) : “Sebentar lagi”
Mas Pacar (membalas pelukan) : “Iya, besuk aku
usahakan kita ketemu lebih sering ya? Ayo sekarang lepas dulu pelukannya. Ibu
sudah negur loh”
Nona (melepas pelukan dengan setengah hati)
: “Ih, ibu mah. Padahal sudah sering main terus sudah kenal mas juga. Kenapa
sih masih membatasi waktu lagi. Seperti anak kecil saja”
Mas Pacar (tersenyum manis sambil berdiri) : “Mungkin
ibu juga ingin kita berdua istirahat juga. Sudahlah sekarang aku pulang dulu ya”
Nona (berdiri) : “Ya sudahlah. Hati-hati ya”
MAS PACAR
MENAIKI MOTOR DAN KEMUDIAN MELAMBAIKAN TANGAN KE NONA DAN NONA JUGA IKUT
MELAMBAIKAN TANGAN.
ADEGAN
2
Hari
demi hari terlewati. Mas pacar dan nona masih sering bertemu seperti sepasang
kekasih pada umumnya. Ibu juga masih sama, selalu menegur nona dan mas pacar
saat malam telah tiba.
NONA DAN MAS
PACAR DUDUK DI TERAS BERCANDA DAN MENGOBROL. NONA DAN MAS PACAR MENGENDARAI
MOTOR. IBU KELUAR UNTUK MENEGUR SEMBARI MENUNJUK LANGIT
ADEGAN
3
Diterimanya
nona magang selain membuatnya senang, tapi juga membuatnya sedih karena
ketakutannya akan jarang bertemu dengan mas pacar. Membuat nona ketakutan
tentang hubungannya dengan mas pacar.
DUA TEMPAT.
NONA DAN MAS PACAR SALING BERTELEPON.
Nona : “Aku ada kabar gembira mas”
Mas Pacar : “Apa itu?”
Nona (bercerita dengan riang) : “Akhirnya aku keterima magang
di tempat yang aku ceritakan kemarin. Aku happy banget tahu tidak sih? Aaaaaa”
Mas Pacar : “Hah? Serius? Wow aku bangga banget
sama kamu. Selamat ya sayang”
Nona (dengan wajah murung) : “Tapi aku juga
sedih”
Mas Pacar : “Loh, kenapa sedih? Harusnya senang
dong akhirnya keterima magang di tempat yang kamu mau”
Nona (sedih) : “Ya sedihlah, nanti kita jadi jarang bertemu. Kamu
kerja, aku juga magang. Kita sama-sama sibuk. Aku takut waktu ketemu kita jadi
berkurang, terus nanti kamu sama yang lain, terus nanti...”
Mas Pacar (memotong omongan nona) : “Heh, kok
ngomong seperti itu? Bisa kita bisa kok. Asal saling percaya aja. Kamu percaya
kan sama aku?”
Nona : “Iya aku percaya. Tapi kita nggak
ada yang tahu kan mas gimana nanti jadinya?”
Mas Pacar : “Bisa, walaupun kita bakal jarang
ketemu, tetapi paling tidak kita bisa mengusahakan buat saling komunikasi”
Nona : “Huhu, aku takut saja”
Mas Pacar : “Ssttttt jangan nangis, aku tidak
bisa memeluk ke sana. Pasti bisa, ayo saling mengusahakan”
TELEPON
DITUTUP. NONA MENGUSAP AIR MATA. MAS PACAR MENGUSAP MUKA GUSAR. LALU KELUAR
BERBEDA ARAH
ADEGAN
4
Hingga
tiba saat nona mengikuti kegiatan magang dan membuat mereka jarang untuk
bertemu bahkan berkomunikasi saja tidak sempat. Mas pacar yang gelisah pun
berinisiatif untuk mendatangi rumah kekasihnya di suatu waktu. Berharap dapat
berjumpa dengan nona yang sudah sangat ia rindukan.
MAS PACAR
BERGERAK MONDAR-MANDIR DI DEPAN RUMAH NONA. MAS PACAR MENCOBA MENELPON NONA.
Mas Pacar (celingak-celinguk dan mondar-mandir
rumah nona) : “Aduh, nona ada tidak ya?”
IBU KELUAR
DARI PINTU
Ibu : “Loh, mas kok di sini? Nona lagi magang ini belum
pulang biasanya jam segini”
Mas Pacar (bersalaman dengan ibu) : “Eh,
permisi ibu. Iya ini mencari nona, dia belum pulang ya bu?”
Ibu (mempersilakan masuk ke rumah): “Belum mas kalau jam
segini. Paling sebentar lagi. Ayo mas masuk dulu kenapa silakan”
Mas Pacar (berjalan masuk ke dalam rumah) :
“Baik ibu. Permisi bu”
Ibu : “Mau minum apa mas? Buat teman nunggu sekalian?”
Mas Pacar : “Tidak usah ibu, takut merepotkan.
Tidak usah tidak apa-apa”
Ibu : “Loh, kok begitu. Santai saja sama ibu. Ayo cepat mau
minum apa?”
Mas Pacar : “Tidak usah bu tidak apa-apa”
Ibu : ”Ibu buatkan teh hangat ya? Eh atau es sirup saja biar
seger mas? Ah kalau ibu tanya pasti bilangnya tidak usah terus. Ibu buatkan
sajalah”
IBU MELENGGANG
PERGI KE DAPUR. MAS PACAR DUDUK TERDIAM DI RUANG TAMU.
Ibu (menaruh air minum dan duduk di kursi tamu) : “Ini ya
mas, ayo silakan jangan malu-malu sekalian nunggu”
Mas Pacar (mengambil gelas dan meminumnya) :
“Aduh harus repot-repot ini. Terima kasih bu, mari minum”
MAS PACAR
MINUM. IBU DIAM DULU MEMPERHATIKAN. SALING TERDIAM SEBENTAR. IBU MENCOBA
MEMECAH KEHENINGAN.
Ibu : “Mas, ini saya tahu dari nona, mas ini kerja di kantor
besar seberang jalan raya ya?”
Mas Pacar : “Iya bu, alhamdulilah”
Ibu : “Wah bagus sekali dong. Dulu mendiang suami ibu juga
bekerja di sana”
Mas Pacar : “Loh kebetulan sekali bu. Kalau
boleh tahu bapak dulu kerja di posisi apa?”
OBROLAN IBU
DAN MAS PACAR SEMAKIN SERU. MEREAKA YANG AWALNYA CANGGUNG TERLIHAT AKRAB DENGAN
CEPAT. APALAGI SAAT MEREKA MEMBAHAS TEMPAT MAS PACAR BEKERJA
Mas Pacar (sambil tertawa) : “Hahahaha, iya bu
sekarang juga masih ada kucing yang berkeliaran di lobi. Tapi paling itu sudah
keturunan kucing jaman bapak bekerja kali ya?”
Ibu (sambil tertawa) : “Hahahaha, iya juga kali ya. Haduh
mas saya baru ingat. Ada beberapa hal yang perlu saya uruskan ke kantor bapak
dulu. Katanya tentang tunjangan gitu. Saya kurang ngerti mas. Mau ngajak Nona
juga dia lagi sibuk magang sekarang. Kira-kira mas mau tidak ya menemani saya
mengurus itu ke kantor”
Mas Pacar (mengangguk) : “Saya antar saja bu.
Tidak apa-apa.”
MAS PACAR DAN
IBU SALING MENGOBROL LAGI. TIDAK LUPA MEREKA SALING BERTUKAR NOMOR UNTUK
MEMUDAHKAN DALAM BERKOMUNIKASI.
ADEGAN
5
Lama
kelamaan terjadi keseringan komunikasi antara ibu dan mas pacar. Dalam waktu
tersebut nona juga masih sering sulit untuk dihubungi sehingga mas pacar sering
bertanya kepada ibu. Selain berkomunikasi, mas pacar dan ibu juga jadi sering
bertemu dengan ibu. Yang mulanya hanya menemani ibu ke kantor lalu lama
kelamaan menjadi pergi berdua hanya untuk sekedar makan atau menamani ibu
berkeliling kota karena sudah lama tidak berkeliling kota semenjak meninggalnya
bapak tahun lalu.
IBU DAN MAS
PACAR BERTEMU. MENGENDARAI MOTOR. TERTAWA BERSAMA. MENGURUS HAL DI KANTOR
BERSAMA. DUDUK DI RUANG TAMU HANYA UNTUK SEKEDAR MENGOBROL SAMBIL TERTAWA
BERSAMA.
ADEGAN
6
Kurangnya
komunikasi dan intensitas bertemu antara Nona dan Mas Pacar membuat hubungan
mereka semakin meregang. Malah intensitas Ibu dan Mas Pacar bertemu semakin
sering.
IBU DAN MAS
PACAR TERTAWA BERSAMA. NONA MENCOBA MENELPON MAS PACAR. MAS PACAR MELIHAT HP
DAN MENGACUHKANNYA.
ADEGAN
7
Sore
itu, Nona sedang duduk di teras dengan raut gusar sembari mencoba menelpon Mas
Pacar. Seperti istilah “pucuk dicinta, wulan pun tiba”. Motor Mas Pacar
memasuki halaman rumah Nona. Dengan riang menyapa dan mendatangi Mas Pacar.
Akan tetapi, tidak dengan Mas Pacar yang berubah raut wajah terkejut.
Nona (berlari lalu memeluk Mas Pacar) :
“Mas aku kangen banget sama kamu”
Mas Pacar : “Eh iya. Kamu apa kabar?”
Nona : “Mas aku kangen banget. Mas tidak
kangen aku kah?”
Mas Pacar (tersenyum kaku) : “Iya aku juga
kangen kok. Ayo masuk dulu tidak enak dilihat tetangga”
Nona : “Oh iya, ayo masuk mas. Mas sudah
lama tidak ketemu ibu juga kan?”
NONA
MENARIK MAS PACAR MASUK RUMAH. NONA MEMANGGIL IBU. IBU KELUAR DENGAN WAJAH
TERKEJUT.
Nona : “Loh kenapa? Tumben tidak salaman
seperti biasa”
Mas Pacar (mengulur tangan ke arah ibu) : “Eh
iya, halo bu”
Ibu (menjabat tangan Mas Pacar) : “Oh,
iya mas”
IBU
DAN MAS PACAR SALING MELIRIK. IBU BERGERAK MERANGKUL PUNDAK NONA DAN MENGHELA
NAFAS.
Ibu : “Nona, sebenarnya ada yang mau ibu
bicarakan dengan kamu”
Nona (memasang raut wajah bingung)
Ibu : “Ibu dan Mas Pacar bermaksud untuk
melangkah lebih serius lagi. Bukan sebagai ibu mertua dan menantu, tetapi
sebagai pasangan”
Nona (melebarkan mata dan berteriak) : “IBU?!?!”
Komentar
Posting Komentar