SINGGAH
Oleh Khrisna
“Prit prit prit”
Suara peluit pertanda kereta akan segera meninggalkan
ibukota terdengar dari arah peron kereta. Orang-orang berdesakan masuk ke dalam
gerbong sebelum tertinggal. Yogyakarta adalah tujuan kereta kali ini. Pada
tiupan peluit terakhir pemuda beralmamater biru langit masuk ke dalam gerbong
dengan nafas tidak teratur, sehabis lari sepertinya. Menengok ke kanan dan ke
kiri kebingungan.
Tanpa kusangka ia tiba-tiba duduk tepat di sebelahku.
Tinggi, berlesung pipit, berkulit coklat yang terlihat sangat manis di mataku.
Tidak bisa kutahan mataku untuk meliriknya, tapi sepertinya aku ketahuan. Pada
lirikanku selanjutnya ia menatapku balik dan membuatku melebarkan mata
terkejut.
Sambil mengerutkan dahi ia berkata, “maaf, ada apa ya?”
Salah tingkah sudah aku dibuatnya. “Emm tidak ada apa-apa mas, cuma sepertinya
kita satu kampus,” alibiku sambil menunjuk logo universitas di almamaternya.
Mendengar ujaranku, ia terlihat tertarik dan dengan cepat
balik bertanya, “mbak kuliah di kampus ini juga?” tanyanya sambil menunjuk logo
universitas di almamaternya. Aku mengangguk pelan dan tersenyum. “Kebetulan
sekali ya mbak. Mbak jurusan apa kalau boleh tahu?”
“Sastra Inggris mas. Kalau mas dari jurusan apa?”
“Sastra Indonesia, dengan mbak?” seraya mengulurkan sebelah
tangannya.
“Rembulan, panggil saja Bulan,” kuraih sebelah tangannya.
“Langit. Salam kenal ya.”
Menit berganti jam kami lalui dengan berbincang. Tentang
apapun itu, mulai dari dunia perkuliahan, pengalaman sampai hobi semua kami
perbincangkan. Tanpa terasa pengumuman terdengar dari speaker gerbong bahwa
kami akan tiba di Yogyakarta. Tanpa sempat mengucap kalimat perpisahan kami
berpisah. Tenggelam dalam keramaian stasiun Lempuyangan hari Minggu itu.
Semoga kita dapat bertemu lagi ya Langit.
Waktu berjalan dengan cepat dan aku tidak pernah lagi
bertemu Langit. Sudah berbulan lamanya, tapi bagaimana nyamannya saat aku
berbincang dengannya masih menghantui pikiranku. Aku selalu berharap pada Tuhan
aku akan bertemu lagi dengan Langit, entah di kampus atau di stasiun kereta
lagi.
Sabtu pagi, pada acara seminar yang diadakan oleh fakultas
aku kembali berharap bertemu Langit. Dengan semangat aku masuk ke dalam gedung
pertemuan seminar.
“Mic cek 1,2,3”
Suara itu terdengar familiar. Di depan sana aku melihatnya,
iya dia Langit! Tuhan benar-benar mendengar doaku kali ini. Tubuhku mematung
beberapa detik memandang pemuda di depan sana. Ia tambah lebih mempesona dari
terakhir kali aku melihatnya.
“Langit! Langit ada di sini,” ucapku pelan. “Aku akan
menyapanya nanti,” dengan penuh percaya diri aku mengucapkan kalimat itu. Ah
tidak sabar rasanya.
Seminar berjalan dengan cepat, dengan cepat pula aku
mendekati bagian depan saat yang lain bergegas keluar dari ruangan ini. Aku
melihatnya di sana, tanpa ragu aku semakin mempercepat langkahku dengan senyum
merekah. Ia menoleh ke arahku kemudian ikut tersenyum cerah.
“Rembulan? Halo ternyata kita memang ditakdirkan bertemu
kembali.”
“Halo Langit, kita bertemu lagi,” tidak bisa kusembunyikan
senyumanku.
Setelah pertemuan itu, kami menjadi dekat. Tidak lupa lagi
untuk menanyakan nomor satu sama lain. Komunikasi kami lakukan hampir setiap
hari. Baik melalui pesan singkat atau bertemu kami pasti sempat lakukan.
Bertemu di tengah jadwal perkuliahan, memutari kota dengan motornya, mengintip
setiap sudut Jogja yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tidak hanya paras dan
senyumnya, sikapnya juga sangat manis menurutku. Seperti sekarang contohnya, ia
menyempatkan diri untuk makan siang bersamaku di jeda waktu perkuliahannya.
“Ayo makan, jangan sampai sakit lagi.” Memang kalimat itu
terdengar seperti anak kecil yang baru saja kasmaran. Tapi entah kenapa aku
selalu melayang setiap ia mengingatkanku seperti itu.
“Kau ada waktu sebentar? Aku ingin mengatakan sesuatu,”
ucapnya kali ini tidak lagi membuatku berdebar seperti biasa, debaran kali ini
berbeda, aku gugup. “Tentu saja, ada apa?” ku coba untuk tetap santai. “Mungkin
setelah ini kita tidak bisa lagi sering bertemu seperti ini karena mulai besok
aku akan sibuk karena bertanggung jawab sebagai ketua panitia. Aku minta maaf
ya?”
Kesedihan tidak dapat terhindarkan. Aku juga tidak bisa
apapun selain tersenyum dan berkata, “wah selamat dan semangat ya untuk kegiatannya.
Tidak perlu minta maaf, kau tidak bersalah, itu kewajibanmu. Toh siapa aku
sampai kau harus meminta maaf.”
“Aku benar-benar minta maaf karena aku mungkin sudah
terlanjur nyaman berada di dekatmu dan merasa berat tidak bisa selalu bersamamu
lagi.” Kalimatnya kali ini membuat mataku membulat kaget. Apa yang baru saja
dia katakan? Dia nyaman berada di dekatku? Wah Rembulan akhirnya Langit
merasakan apa yang kau rasakan. Kegugupan tidak lagi bisa kusembunyikan, keluar
bersamaan dengan rona merah di pipiku.
“Oh, hah bagaimana?” jawabku dengan gugup dan terbata-bata.
“Kau lucu sekali,” sebelah tangannya terulur mengusap pelan
kepalaku. Terdiam aku dibuatnya. Kurang ajar dia pikirku karena hanya usapan
pelan di kepalaku dan hatiku sudah berantakan dibuatnya. Tidak sampai di situ,
kali ini ia meraih sebelah tanganku dan ia genggam.
“Aku berharap kita tetap seperti ini.”
Hari-hari berikutnya benar seperti
kata Langit, ia mulai sibuk. Waktu untuk kami sekedar bertukar pesan singkat
dan bertemu menghilang ditelan sang penjahat waktu. Hanya bisa aku lihat ia
dari kejauhan dengan segala hal yang selalu membuatnya sibuk. Waktu berjalan
dengan cepat, tanpa sadar aku dan Langit bukan lagi 2 orang yang dekat seperti
dulu. Kami lebih mirip orang asing sekarang. Bahkan tidak ada sapaan yang
terucap saat kami sekedar berjumpa di jalan.
Hari ini aku memberanikan diri menyapanya. Mungkin kami
bukanlah sepasang kekasih, tapi bukankah sangat menyedihkan bila kehilangan
seseorang yang telah membuatmu nyaman.
Derap langkah kupercepat saat melihat Langit dengan laptop
di pangkuannya duduk sendirian di gazebo. Dengan takut-takut aku duduk di
depannya. “Hai Langit?” Langit menoleh dengan dahi berkerut berpikir.
“Oh hai Bulan, ada apa?”
“Tidak apa-apa hanya ingin menyapamu saja. Apa kabar?”
“Baik seperti yang kaulihat,” jawabnya sama sekali tidak
mengalihkan pandangan dari laptop di pangkuannya. Banyak obrolan yang kumulai
saat duduk di sana, obrolan yang biasa kami bincangkan dulu. Bukan jawaban yang
membuat hatiku menghangat seperti dulu yang aku dapatkan, tapi jawaban singkat
dan terkesan tidak peduli.
Langit tiba-tiba menutup laptopnya dengan segera kemudian
berdiri terkesan buru-buru. “Bulan aku minta maaf aku harus menjemput pacarku,
besok kita berbincang lagi.” Tanpa menoleh lagi kepadaku ia melangkah pergi
dari hadapanku. Wow, lihatlah fakta yang baru saja aku dengar. Langit sudah
punya pacar. Mungkin agak menyakitkan jika terdengar oleh hatiku. Tapi aku
berterima kasih kepada Langit telah mengatakan hal itu. Setidaknya aku tahu apa
yang akan kulakukan selanjutnya, ya berhenti berharap menjadi dekat seperti
dulu lagi dengan Langit.
Langit dan Rembulan.
Lihat bahkan nama kami saja sudah mengisyaratkan akhir
cerita ini. Aku, Rembulan hanya akan singgah sekejap dalam kehidupan Langit.
Seperti rembulan yang hanya akan singgah menjadi penghias langit malam dan
segera pergi dari langit saat sang fajar telah datang. Terima kasih Langit
telah menjadi tempat hatiku singgah meski hanya sesaat.
Komentar
Posting Komentar