Cerpen MAAFKAN AKU

 

MAAFKAN AKU

Oleh Khrisna 

 

            Bising suara memenuhi tempat itu. Tempat favorit mahasiswa untuk mengerjakan tugas katanya. Tapi nyatanya suara nyaring tawa dan obrolan terdengar bersahutan dari sana. Malam itu, salah satu kedai kopi favorit mahasiswa ibukota tengah dipenuhi pemuda-pemudi untuk hanya sekedar duduk santai, mengerjakan tugas, atau berkumpul dengan teman-teman.

            “Aku lelah sekali tertawa hari ini, hahahaha,” ucap seorang perempuan muda dengan selingan tawaan lebar pada akhir kalimatnya.

            “Sudahlah Mentari, ini sudah malam mari kita pulang. Oh iya kau mau ikut di mobilku atau Awan?” Iya, perempuan yang tertawa dengan lebar tadi bernama Mentari. Berkumpul bersama dengan teman kampus adalah hal keseharian untuknya. Tiada hari tanpa ‘nongkrong’ bersama teman-temannya. Pergi mencoba setiap tempat terbaru dan kekinian menjadi agenda hariannya.

            Gadis itu kini sudah berada di dalam mobil Awan, seorang anak anggota dewan dengan segala kemewahan yang selalu pria itu bawa. “Awan, aku turun di depan komplek itu saja ya.”

            “Kenapa Mentari, bukankah akan lebih bagus kalau aku mengantarkanmu sampai ke depan rumah? Hitung-hitung bertemu dengan orang tuamu. Hanya orang tuamu yang belum pernah kami lihat, kami juga ingin berkenalan dengan mereka,” Awan masih fokus menyetir mobilnya.

            Mentari tiba-tiba gugup dan mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Otaknya mulai berpikir dan mencoba mencari alasan untuk menghindar. “Em, Awan tapi bagaimana jika orang tuaku sudah tidur? Bukankah tidak sopan membangunkan mereka?” Jawaban dan tolehan kepala Mentari membuat Awan percaya dan hanya menganggukkan kepala setuju.

            “Terima kasih ya Awan. Hati-hati di jalan”

            Mobil Awan segera melesat pergi dari depan komplek perumahan yang di tunjuk Mentari. Tetapi langkah kaki Mentari tidak membawanya masuk ke dalam komplek tersebut, tetapi melangkah menuju gang sempit disebelah komplek perumahan. Gang sempit dan lampu remang jalan menemani Mentari menuju ke tempat tujuannya. Rumah sederhana tanpa pagar dan beberapa bakul kosong serta sepeda motor lama yang terlihat masih terparkir di depan rumahnya.

            Dengan lesu dan menghela napas Mentari membuka kenop pintu rumah itu. Rumah tempat ia dan orang tuanya tinggal, terbilang sederhana dan jauh dari kata mewah. Sangat jauh dari rumah teman-temannya, pikir Mentari setiap kembali dari nongkrong bersama teman-temannya. Ia selalu membanding kehidupannya dengan teman-temannya.

            “Mentari kamu baru pulang nak? Ini sudah jam 10 malam, Bapak dan Ibu khawatir,” sambut seorang wanita paruh baya dengan daster dan senyum yang masih melekat pada wajahnya. “Iya nak, kamu kemana saja,” kali ini suara pria paruh baya merasuk telinga Mentari. 

            “Aku sudah bukan anak kecil lagi Pak, Bu. Aku sudah besar aku bisa menjaga diriku sendiri,” jawab Mentari kepada kedua orang tuanya. Mendengar jawaban ketus dari Mentari, kedua manusia paruh baya tersebut hanya bisa menghela napas dan saling bertatapan dengan raut sedih satu sama lain.

            “Oh iya aku minta uang, besok aku akan pergi bersama teman-temanku lagi,” Mentari menoleh sekilas.

            “Untuk apa lagi nak? Kan tadi sudah Bapak beri.”

            “Hanya segitu tentu saja sudah habis.”

            “Tapi dagangan Bapak sedang tidak laris nak. Sedang sepi akhir-akhir ini. Bagaimana kalau kamu tidak main dulu?”

            Mentari kembali menoleh dengan alis menajam. “Kenapa Bapak selalu melarang aku untuk pergi main bersama teman-temanku? Bapak tidak suka ya aku bahagia?”

            “Nak, untuk kita bisa makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Tolong mengerti keadaan dulu ya Nak,” ibu Mentari kali ini ikut menanggapi. “Kenapa keadaan kita selalu seperti ini. Kenapa kita tidak bisa seperti orang lain? Kenapa kita selalu berkekurangan? Aku sangat benci keadaan kita seperti ini,” suara Mentari meninggi seiring dengan kalimat yang diucapkannya.

            Bunyi pintu ditutup secara keras terdengar dari rumah ini. Hal yang selalu terjadi saat Mentari tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Orang tuanya pun sudah merasa lelah untuk memberi Mentari pengertian karena yang akan terjadi hanya adu mulut nantinya. Ibu dan bapak Mentari pun hanya dapat berdiam di tempat. Lelah. Mereka lelah dengan segala tindakan Mentari. Tetapi mereka juga tidak dapat melakukan apapun dan tidak sanggup untuk sekedar memarahi putri mereka.

            “Sudah bu, tidak apa-apa besok Bapak coba berangkat lebih pagi agar dapat uang untuk Mentari. Maaf ya Bu, Bapak belum bisa membawa Ibu dan Mentari hidup enak.”

            “Tidak perlu minta maaf Pak, kehidupan memang seperti ini Pak. Ini bukan salah Bapak saja,” senyum tipis merekah di wajah mereka.

            Matahari bahkan belum menampakkan diri hari itu, tapi bapak dan ibu Mentari sudah keluar untuk bekerja. Sang ibu mulai berjalan menyusuri gang sempit dengan lampu temaram, komplek perumahan sebelah adalah tujuan ibu kali ini lebih tepatnya rumah bu Ani. Seorang istri dari tentara yang sering ditinggal sendirian di rumah. Ibu bekerja di sana mulai dari pagi hari sampai adzan mahgrib menjelang. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, sampai mengurus putri kecil bu Ani dikerjakan oleh ibu. Hanya itu yang bisa ibu lakukan untuk membantu mencukupi kebutuhan finansial keluarga ini.

            Sedangkan bapak mengambil motor tua dan beberapa bakul. Membelah sunyi dan dinginnya ibu kota untuk mengambil sayuran dari pengepul yang lebih besar dan berkeliling rumah-rumah menjajakan sayur dagangannya. Itulah pekerjaan bapak. Bapak selalu pergi saat matahari menyambut dan kembali saat sore datang. Terkadang bapak akan berangkat lebih pagi agar dapat berkeliling lebih lama. Seperti hari ini contohnya. Bapak adalah orang yang sabar dan tidak pernah marah. Tidak ada kata keluhan terucap oleh bapak. Bahkan ketika Mentari meminta sesuatu, bapak akan selalu mengusahakan Mentari mendapatkan apa yang diinginkannya.

            Hari berlalu dan pola kegiatan yang sama selalu mereka lakukan. Bapak dan ibu yang pergi bekerja semenjak matahari belum menampakkan diri serta Mentari yang masih suka nongkrong dengan teman-temannya. Raga bapak dan ibu semakin melemah seiring berjalannya waktu dan banyaknya hal yang dilakukan. Tibalah saat raga mereka sudah terlalu lelah dan melemah.

            Mentari keluar dari kamarnya dengan muka datar seperti biasa. Terheran kenapa sepeda motor bapak masih terparkir di teras rumah juga bakul-bakul tempat bapak biasanya berjualan. “Pak? Bu? Masih di rumah?” Tidak mendengar sahutan membuat Mentari terheran. Melangkah menuju setiap sudut rumah mencari dimana kedua orang tuanya berada. Rasa penasaran semakin tinggi ketika melihat pintu kamar kedua orang tuanya terbuka sedikit.

            “Bapak di rumah istirahat dulu saja ya?” suara ibu nampak terdengar khawatir.

            “Uhuk uhuk, tapi besok kita mau makan apa Bu kalau Bapak tidak pergi berjualan?”

            “Bapak yang penting sehat dulu, ini Ibu masih ada simpanan cukup untuk makan hari ini,” suara ibu kali ini juga nampak serak dan terdengar pilu.

            “Tapi Ibu juga sedang tidak enak badan,” kata bapak.

            “Bapak dan ibu sakit?” tanya Mentari pada dirinya sendiri.

            Tidak tahan berdiri dengan rasa penasaran, Mentari perlahan mengetuk pelan pintu dan memasuki kamar kedua orang tuanya dengan raut wajah tidak dapat ditebak.

            “Bapak dan ibu sakit?”

            Bapak dan ibu saling beradu tatap lalu tersenyum pucat. “Kami tidak apa-apa Mentari, hanya kelelahan saja paling besok sudah lebih enak,” jawab bapak terlihat meyakinkan putri semata wayangnya. Setelah mendengar jawaban bapak, Mentari hanya menganggukkan kepala dan berlalu dari kamar kedua orang tuanya.

            Hari berikutnya kondisi bapak ternyata masih sama, bisa dibilang malah lebih parah. Sekedar untuk berdiri dan menjawab pertanyaan saja bapak terdengar sangat lemas. “Bu, maaf ya Bapak hari ini merepotkan Ibu lagi dengan harus menjaga Bapak. Bagaimana kita makan besok Bu kalau Bapak tidak bekerja?” mendengar ucapan bapak, ibu berpikir sejenak.

            “Pak, bagaimana kalau kita minta Mentari menggantikan Bapak berjualan untuk beberapa hari?”

            “Tapi apa Mentari mau Bu? Ibu tahu sendiri bagaimana anak kita kan?”

            “Mau bagaimana lagi Pak, hanya itu yang mungkin bisa menolong kita saat ini,” jawaban ibu kali ini terdengar lebih pasrah.

            “Benar juga ya Bu. Baiklah nanti coba kita bicara dengan Mentari saat dia sudah pulang.”

            Mentari sendiri masih menjadi Mentari yang biasanya, pergi nongkrong bersama teman-temannya setiap saat dan baru kembali saat malam hari. Seperti malam ini saat bapak dan ibu menunggu Mentari pulang, sudah pukul 9 malam, tapi putri mereka belum juga menampakkan diri. Khawatir dengan keadaan bapak yang akan melemah jika kurang istirahat, maka tinggallah ibu sendirian menunggu Mentari pulang di ruang tamu. Mengintip jendela setiap saat dengan perasaan risau.

            Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu terbuka dan Mentari menampakkan diri dari sana. Tampak masih dengan raut datarnya dan alis mengerut. Tanpa basa-basi lebih lagi, “Mentari ada yang ingin ibu bicarakan denganmu”.

            Mentari masih dengan sikap santainya mendudukkan diri di kursi ruang tamu mereka, “ada apa bu?” mencoba sebisa mungkin tidak menatap ibunya dengan raut wajah tidak peduli.

            “Seperti yang kau tahu, bapak sedang sakit dan tidak bisa bekerja terlebih dahulu. Ibu juga sudah tidak bisa izin lagi. Apa kamu mau menggantikan bapak berdagang untuk sementara? Kamu sudah tahu kan pengepul sayur dan tempat-tempat yang biasa dikelilingi bapak?”

            “Kenapa tidak bapak saja? Katanya hanya istirahat bisa sembuh, sudah istirahat kan?” nada ketus mulai dilontarkan Mentari. Sopan santunnya sudah terlihat lagi.

            Dengan penuh kesabaran ibu mencoba sebisa mungkin menjelaskan kepada Mentari, “Nak, maaf kami harus memintamu melakukan ini. Tapi bapak sedang sakit Mentari tidak bisa bekerja. Ibu juga tidak bisa mengambil izin lagi. Kalau tidak berdagang, maka kita tidak bisa makan besok. Apa kamu mau menolong kami? Hanya sementara saja sampai bapak bisa benar-benar pulih.”

            “Kenapa harus aku? Aku tidak mau. Itu urusan kalian. Toh besok aku ada jadwal kuliah siang bagaimana aku bisa berdagang di pagi harinya? Ibu mau aku kelelahan saat kuliah?” nada Mentari kali ini meninggi, membuat bapak yang sedang istirahat terbangun dan mendatangi mereka berdua.

            Mendengar jawaban Mentari, mata ibu mulai berkaca-kaca. Tidak percaya jawaban seperti itu baru saja dilontarkan oleh putri semata wayangnya. “Sudah Bu, tidak apa-apa. Besok bapak saja yang bekerja, bapak sudah lumayan sehat ini.” Ujar bapak sembari menepuk-nepuk bahu ibu pelan bermaksud menenangkan.

            “Maaf ya Mentari, kami tidak bermaksud merepotkanmu,” ucapan bapak kali ditujukan pada Mentari.

            “Tuh, bapak sudah sehat Bu. Aku tidak perlu menggantikan bapak,” Mentari mengambil langkah lebar masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras.

            Keesokan harinya, benar seperti yang diucapkan bapak kemarin. Bapak sudah mulai bekerja. Dengan wajah yang masih pucat bapak mulai merapikan bakul-bakul yang akan ia bawa pada motornya. Ibu juga ada di sana untuk membantu bapak. Dengan senyum tipis bapak menghampiri ibu, “bapak berangkat dulu ya Bu.”

            “Kalau tidak kuat tidak usah dipaksakan pak, kalau ada apa-apa segera hubungi kami ya,” nada bicara ibu terdengar sangat khawatir dan sedih kali ini.

            “Tentu saja bu. Doakan ya bu.”

            “Pasti pak.”

            Ibu pun juga segera bergegas ke rumah bu Ani untuk bekerja. Meninggalkan Mentari yang masih tidur sendirian di rumah. Hal ini sudah biasa terjadi, bapak dan ibu akan selalu berangkat pagi sekali saat Mentari masih tertidur dan akan pulang saat Mentari belum pulang. Selalu seperti itu sehingga waktu mereka untuk bertemu dan berbincang juga tidak terlalu sering.

            Sore harinya, Mentari terlihat masih berkumpul dengan teman-temannya di kampus. Tidak melakukan sesuatu yang penting, hanya berkumpul dan berbincang menghabiskan waktu. Tertawa keras karena candaan satu sama lain atau hanya sekedar berbincang tentang perkuliahan mereka dan baru akan berminat untuk pulang saat langit telah gelap.

            Ponsel Mentari bergetar, nama ibu muncul dari layarnya. “Mentari, ini ibumu menelpon,” ujar salah satu teman Mentari. Ada apa ini tidak biasanya ibu menelepon, kata Mentari dalam hati kebingungan.

            “Halo Bu?”

            “...” tidak ada jawaban dari seberang membuat Mentari kebingungan. “Halo ada apa Bu?” Kali ini suara isak tangis terdengar dari seberang dan sontak membuat mata Mentari melebar terkejut.

            “Bapak nak bapak. Kamu pulang sekarang ya,” tanpa kata lagi telepon ditutup secara sepihak. Berkali-kali dihubungi kembali juga tidak dapat menyambung. Semakin bingunglah Mentari setelah mendengar ucapan ibunya itu. Tanpa kata lagi ia langsung bergegas pulang ke rumah tanpa memerdulikan teman-temannya yang memanggil namanya.

            Kerumunan orang dan bendera kuning yang diikat di depan rumah menjadi pemandangan Mentari saat kembali pulang kali ini. Mentari sempat berhenti sejenak di depan rumahnya tidak percaya memandangi rumah dan mencoba memikirkan segala kemungkinan yang terjadi saat ia masuk ke dalam. Orang-orang yang berkumpul di sana memandangnya iba seolah-olah kasihan kepadanya. Tanpa kata lagi, Mentari segera berlari masuk kerumahnya dan menghampiri ibunya yang sedang menangis tersedu-sedu dengan seorang tetangga yang menenangkan di sebelahnya.

            “Ibu ada apa ini? Siapa yang meninggal? Kenapa ibu menangis seperti ini?”

            “Bapak nak, bapak sudah tidak ada. Bapak kecelakaan tadi pagi,” dunia Mentari seolah berhenti sekarang. Mencoba sekuat tenaga untuk menolak kenyataan yang menghampirinya, tetapi tidak bisa. Menangis. Setelah sekian lama Mentari meneteskan air mata di depan ibunya. Saat kepergiaan ayahnya untuk selamanya.

            “Harusnya Mentari yang berjualan bu, bukan bapak! Harusnya bapak masih ada di sini sekarang. Bapak tidak sungguh-sungguh pergi bu? Ibu ini salah Mentari bu!” seruan Mentari terdengar histeris dan menangis meronta saat akan ditenangkan.

            “Sudah Mentari, jasad bapak sedang dibawa ambulans ke sini. Kita harus kuat ya nak sekarang hanya kamu alasan ibu untuk bertahan”

            Tangisan histeris Mentari memenuhi rumah itu. Membuat sesak setiap orang yang mendengarnya. Sore itu mungkin akan menjadi sore yang paling dibenci sekaligus menjadi penyesalan terbesar untuk Mentari.

 

 

 

 

 

 

Komentar