Analisis Persajakan Dalam Puisi HARI MENUAI Karya Amir Hamzah
Hari Menuai
Karya : Amir Hamzah
Lamanya sudah tiada
bertemu
Tiada kedengaran suatu
apa
Tiada tempat duduk
bertanya
Tiada teman kawan
berberita
Lipu aku diharu sendu
Samar sapur cuaca mata
Sesak sempit gelanggang
dada
Senak terhentak raga
kecewa
Hibuk mengamuk hati
tergerai
Melolong meraung
menyentak rentak
Membuang merangsang
segala petua
Tiada percaya pada
siapa
Kutilik diriku kuselam
tahunku
Timbul terasa terpancar
Istiwa lama merekah
terang
Merona rawan membunga
sedan
Tahu aku
Kini hari menuai api
Mengetam ancam membelam
redam
Ditulis ditukis jari
tanganku
A.
ANALISIS PERSAJAKAN
Pada puisi berjudul
“Hari Menuai” karya Amir Hamzah tersebut terdapat banyak persajakan yang bisa
ditemukan. Persajakan bisa ditemukan di awal, tengah maupun akhir kata yang
membuat larik dalam puisi tersebut menjadi enak didengar. Seperti pada bait
kedua puisi tersebut terdapat asonansi huruf vokal u pada kata lipu, aku,
diharu, sendu, sapur, cuaca di awal bait kedua ini.
Pada bait pertama
ditemukan pengulangan kata yaitu kata tiada
yang disebutkan pada awal larik kedua, ketiga, dan keempat. Pada akhir ketiga
larik tersebut juga bisa dilihat asonansi huruf a. Sedangkan pada larik keempatnya ditemukan susunan vokal yaitu iaa, ea, aa, eeia pada kata tiada, teman, kawan, dan berberita yang menjadikan larik
tersebut indah saat dibunyikan. Selain itu pada larik ketiga dan keempat juga
ditemukan kesamaan yaitu penggunaan konsonan-vokal pada tiap awal katanya.
Sedangkan pada bait
ketiga bisa ditemukan pengulangan bunyi uk
pada akhir kata hibuk dan mengamuk, juga perpaduan aliterasi ng dan pengulangan me pada awal kata di larik kedua yaitu pada kata melolong dan meraung. Pengulangan bunyi me
pada awal kata dan ang pada akhir
kata membuang dan merangsang. Asonansi vokal a
pada akhir setiap kata pada akhir bait ini yaitu pada kata segala, petua, tiada, percaya, pada, dan siapa yang membuat bunyinya semakin indah.
Ditemukan pengulangan
bunyi ku pada setiap kata di larik pertama bait keempat. Sedangkan pada larik
kedua terdapat aliterasi t pada setiap
awal kata larik ini yaitu kata timbul,
terasa, dan terpancar. Pada bait
akhir puisi ini ditemukan asonansi vokal i
pada setiap kata di larik kedua. Pengulangan bunyi am pada akhir setiap kata pada larik ketiga “mengetam ancam membelam redam”. Dan yang terakhir adalah
pengulangan bunyi di di awal kata dan is di akhir kata yaitu pada kata ditulis dan ditukis.
Daya evokasi pada puisi
ini dapat dilihat jelas pada potongan puisi berikut :
Sesak sempit gelanggang dada
Senak terhentak raga kecewa
Susunan bunyi sesak diatas membangkitkan bunyi senak pada larik berikutnya.
Komentar
Posting Komentar