Resensi Novel Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam merupakan novel terbitan Gramedia Pustaka Utama  tahun 2020. Novel ini merupakan cerminan dari  kehidupan masyarakat Sumba yang masih memegang erat adat dan ingin mempertahankannya agar mendapatkan suatu kehormatan. Novel ini sempat menjadi perbincangan, terutama bagi para penikmat sastra feminis Indonesia.


1. Identitas Buku

Judul buku: Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Penulis: Dian Purnomo

Genre: Fiksi 

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Kota Terbit: Jakarta

Tahun terbit: 2020

Halaman: 320 halaman

ISBN: 978-602-064-845-3


Sinopsis

Novel ini menceritakan perjalanan Magi Diela, seorang perempuan berpendidikan asal Sumba. Magi Diela adalah korban dari tradisi kawin culik yang kemudian diperkosa oleh laki-laki teman ayahnya bernama Leba Ali dari suku seberang. Kawin culik atau kawin tangkap merupakan tradisi menculik perempuan yang ingin dijadikan istri apabila tidak mencapai perjanjian adat. 

Magi Diela sangat tidak ingin menikah dengan Leba Ali yang ia juluki dengan mata keranjang. Magi Diela sampai melarikan diri ke Kupang dan Soe yang dibantu oleh sebuah LSM Gema Perempuan hanya agar bisa menghindari Ama Bobo (ayahnya) yang terus bersikeras untuk menikahkan Magi dengan Leba Ali karena menganggap Magi yang telah diperkosa Leba Ali tidak suci dan dapat menjadi aib untuk keluarganya yang lumayan terpandang di kampung.

Pelarian Magi berbuah sia-sia karena ia harus kembali dipaksa untuk menikah dengan Leba Ali sesampainya ia sampai di kampung halamannya. Ia akhirnya terpaksa menikah dengan Leba Ali karena ia harus menyelamatkan masa depan adiknya agar tidak putus sekolah dan agar ayahnya yang sudah sering sakit-sakitan mau berobat ke rumah sakit yang lebih layak.

Mimpi buruk bagi Magi Diela akhirnya terjadi, ia menikah dengan pria yang sudah menculik dan memerkosanya beberapa tahun lalu. Namun kali ini Magi Diela tidak menyerah pada kehidupannya. Dengan berbekal banyak buku tentang perjuangan perempuan yang telah ia baca selama pelarian, ia menyusun suatu rencana dan berhasil memasukan Leba Ali ke dalam penjara. 

2. Isu Diskriminasi Gender Dalam Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Novel Dian Purmono ini mengangkat isu diskriminasi gender yang terjadi di masyarakat Sumba yang masih memegang teguh budaya patriarki. Diskriminasi yang terus dilakukan terhadap perempuan dengan mengatasnamakan adat ini telah berlangsung sangat lama dan bahkan diceritakan masih terjadi pada era modern seperti sekarang ini. Latar kebudayaan masyarakat Sumba juga ikut ditulis oleh Dian Purnomo ke  dalam novel ini.  Relasi antara kebudayaan dan pandangan masyarakat ini yang membuat novel ini memiliki isu yang menarik untuk diteliti.  

Ketidaksetaraan gender yang terjadi merupakan hal utama yang diangkat dalam novel ini. Ketidaksetaraan gender yang terjadi mengakibatkan  lahirnya diskriminasi gender terhadap perempuan yang dalam novel ini berupa kekerasan fisik, pembatasan hak, dan pelecehan. Magi yang menolak segala bentuk diskriminasi yang terjadi pada perempuan Sumba karena adat patriarki yang telah mengakar dalam kehidupan mereka. Diskriminasi gender yang masih terjadi di adat Sumba menyebabkan tokoh utama, Magi Diela melakukan perlawanan untuk menuntut adanya kesetaraan antargender, terutama pada perempuan. 

3. Kelebihan Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Salah satu keunggulan yang dimiliki novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam ini adalah penokohan Magi sebagai tokoh perempuan yang kuat pendiriannya dan cerdas menjadi daya tarik tersendiri.

Selain itu, penggambaran pengarang tentang situasi kebudayaan di Sumba menjadi poin tambah, terutama untuk menambah pengetahuan umum. Jalur cerita yang tidak dapat membosankan juga membuat pembaca semakin tertarik untuk membaca kelanjutan dari tiap babnya.

Penggangkatan isu kebudayaan oleh pengarang di tengah ramainya novel roman membuat novel ini mencolok dan menarik untuk dibaca. Isu gender ternyata masih menjadi masalah di beberapa wilayah di Indonesia pada era modern ini.

4. Kelemahan Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Kelemahan dari novel ini adalah banyaknya istilah yang mungkin sulit dimengerti masyarakat luas karena banyak yang menggunakan bahasa daerah Sumba. Hal ini menyebabkan pembaca harus membuka bolak-balik pengertian yang telah dituliskan di awal agar mengerti maksud pengarang.

Pada bagian akhir, masa depan tokoh utama juga kurang dijelaskan dan menyebabkan pembaca bertanya-tanya bagaimana kehidupan Magi ke depannya setelah terlepas dari belenggu adat yang pernah mengikatnya.

5. Kesimpulan Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Novel ini sangat menarik untuk dibaca terutama oleh para penikmat bacaan feminis. selain isu yang relevan dengan situasi keberagaman di Indonesia, penggambaran setiap tokoh yang masing-masing memiliki sifat yang kuat dan melekat menjadi poin tambahan dalam novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam.

Pembaca juga dapat memperoleh pengetahuan tentang kebudayaan yang ada di Sumba, sebagai latar tempat novel ini.

Komentar