Resensi Cerpen Usiaku 13

Cerpen “Usiaku 13” ditulis oleh Agus Nurjaman yang merupakan seorang guru dan merupakan seorang penulis yang sudah mulai menulis sejak sekolah dasar. Beliau juga sudah menulis buku sebelumnya yang berjudul “Anak Berkebutuhan Khusus” . Awalnya cerpen ini hanya diterbitkan pada kolom artikel surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu tanggal 29 Januari 2019. Tetapi sekarang cerpen tersebut sudah dikembangkan menjadi buku dan sudah berhasil diterbitkan oleh Guepedia Publisher.

1. Identitas Cerpen

Judul: Usiaku 13

Penulis: Agus Nurjaman

Genre: Fiksi 

Penerbit: Surat kabar "Pikiran Rakyat"

Tanggal terbit: 27 Januari 2019

Halaman: 2 halaman

 

Sinopsis

Dimulai dari Bagas yang tidak percaya akan kesialan pada usia ke-13 sampai Bagas merasakan sendiri kesialan yang ia dapat pada usia ke-13 lalu memercayai anggapan bahwa usia ke-13 merupakan usia yang sial. Akan tetapi, kehadiran ibunya menjadi penenang baginya. Usia remaja merupakan usia yang rentan akan perubahan emosi. Saat hal tersebut terjadi pada Bagas, ibunya dengan lembut akan menanyakan kegelisahan Bagas dan mencoba untuk menenangkannya saat menangis.

2. Mitos Sebagai Bentuk Pandangan Masyarakat

    Bagi sebagian orang sebagian orang angka tertentu memiliki makna tersendiri. Ada yang cenderung positif, negatif ataupun mistis. Seperti dalam cerpen ini diceritakan anggapan kesialan pada usia 13 yang dipercaya. Tokoh yang bernama Bagas awalnya tidak mempercayai tentang mitos pada usia 13 yang dianggap memiliki kesialan. Tetapi perlahan ia mulai mengalami kesialan pada usia tersebut dan mulai percaya akan anggapan bahwa usia 13 memang usia yang penuh dengan kesialan. 

       Saat ia sedang merasa sedih akan anggapan tersebut, ibunya datang dan mencoba mencari tahu apakah yang membuat Bagas berpikir bahwa usia 13 merupakan usia yang penuh kesialan. Bagas yang tidak mampu mengatakan hanya menangis pada awalnya. Tetapi setelah itu ia mengatakan pada ibunya bahwa kesialan terbesar pada usianya yang ke-13 adalah meninggalnya sang ayah.

     Cerpen ini memiliki tema sosial budaya yang membahas kebiasaan di masyarakat yang masih memegang dan memercaya suatu anggapan mistis. Dalam cerpen ini menunjukkan bahwa di era modern ini masih ada yang percaya bahwa usia ke-13 memiliki suatu kesialan. 


3. Kelebihan Cerpen Usiaku 13

Cerpen ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan sehingga memudahkan dalam proses pembacaannya. Penggambaran ekspresi tokoh yang detail dan mendalam juga ikut memudahkan pembaca dalam membuat gambaran tentang jalannya ceritanya dan tentunya seakan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh.


4. Kelemahan Cerpen Usiaku 13

Pada cerpen dengan panjang 2 halaman ini, penjabaran mengenai alasan tokoh masih terlalu bertele-tele sehingga menimbulkan kebosanan tersendiri pada pembaca. Selain itu, ending yang kurang menarik juga menjadi kelemahan cerpen ini.

5. Kesimpulan Cerpen Usiaku 13

Cerpen ini dapat dinikmati dengan sekali duduk. Topik bahasan tentang perubahan emosi pada remaja membuat cerpen ini cocok dibaca oleh pembaca remaja. Cerpen ini juga dapat dengan mudah ditemukan di internet.

Komentar