Novel kedua dari tetralogi Pulau Buru dinamai Anak Semua Bangsa oleh penulisnya yaitu Pramoedya Ananta Toer. Tiga buku lainnya ialah Bumi Manusia, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Tetralogi ini ditulis pada saat Pramoedya Ananta Noer berada dalam tahanan di Pulau Buru. Sempat dilarang edar oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa waktu karena dinilai mengajarkan tentang perlawanan terhadap pemerintah yang berkuasa. Buku keduanya yaitu Anak Semua Bangsa berlatarkan waktu pada tahun 1898 sampai tahun 1918, saat bangsa Indonesia masih berada di bawah jajahan bangsa Eropa dan masa awal kebangkitan nasional.
1. Identitas Buku
Judul buku: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Genre: Fiksi
Penerbit: Hasta Mitra
Kota Terbit: Yogyakarta
Tahun terbit: 1981
Halaman: 412 halaman
Sinopsis
Bercerita tentang kehidupan Minke dan mama Annelise (Nyai Ontosoroh) setelah Annelies di bawa pergi ke Nederland. Diawal cerita menceritakan Minke yang kehilangan istrinya, Annelise. Kabar yang di dapatkannya dari sebuah surat dari Panji Darman yang ikut mengantar Annelise sampai ke Nederland, jika Annelise telah meninggal di Nederland. Minke memulai kembali kehidupannya.
Bertemu dengan banyak orang dari bangsa lain telah menyadarkan Minke. Dalam artikel dan berita yang sering ia tulis, ia sering mengambil sudut pandang Eropa bukan bangsanya sendiri. Berbagai kenyataan ia akhirnya melihat bahwa bangsa Eropa yang selama ini ia banggakan tidak lebih dari seorang penindas. Kepercayaannya terhadap Eropa sudah mulai menghilang. Ia bertekad untuk lebih mengenal bangsanya sendiri. Dan memerjuangkan bangsanya, salah satu caranya ialah dengan menulis tetapi tulisan tersebut terus saja ditolak oleh penerbit karena mengandung unsur nasionalisme yang waktu itu sangat dilarang.
Minke lalu melanjutkan pendidikannya ke Betawi untuk menjadi dokter. Dalam perjalanannya di sebuah kapal, Minke dijemput paksa untuk segera kembali ke Wonokromo. Beberapa hari setelah Minke kembali ke Wonokromo. Nyai Ontosoroh dengan di damping oleh Darsam, Jean Marais dan anaknya Maysaroh Marais, Korrem, dan Minke, meyambut kedatangan Ir. Maurits Mellema, orang yang secara tidak langsung yang telah menyebabkan Annelise meninggal, juga yang akan mengambil alih perusahaan yang sudah dikelola Nyai Ontosoroh.
2. Kelebihan Novel Anak Semua Bangsa
Penulis dengan runtut menceritakan sejarah zaman pemerintahan Belanda walau hanya di Surabaya dan Sidoarjo kali ini. Novel seri kedua dari empat kumpulan seri karya Pramoedya ini membawa perspektif baru dari seri yang sebelumnya. Kehidupan masyarakat pribumi, pemerintah Belanda yang menduduki tanah air pada saat itu, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo, dan pengetahuan tentang dunia dijelaskan lebih luas. Perubahan prespektif dari tokoh Minke yang awalnya membanggakan Eropa menjadi memperjuangkan bangsanya menjadi poin utama dalam novel ini.
Buku ini sangat menarik, mengandung pesan moral tersendiri dimana hidup tidak boleh berjalan statis. Pram dapat mengembangkan sosok Minke yang tumbuh dari kesalahan dan berkembang atas pengalaman dan saran dari orang-orang terdekatnya.
3. Kelemahan Novel Anak Semua Bangsa
Novel ini bukanlah bacaan ringan bahkan dapat dikategorikan terlampau berat bagi seseorang yang baru ingin memulai kegiatan literasi di era ini. Selain itu, sebagai pembaca kita harus sebisa mungkin untuk benar-benar memahami isi cerita tersebut untuk menangkap pesan yang tepat dan ingin disampaikan oleh penulis.
4. Kesimpulan Novel Anak Semua Bangsa
Penulis buku ini, Pramoedya Ananda Toer merupakan penulis yang sangat disegani dengan karyanya yang luar biasa. Penulisan tentang kehidupan rakyat Indonesia pada masa kolonial penjadi fokus utamanya. Novel ini merupakan novel kedua dari seri Tetralogi Pulau Buru yang ia tulis saat diasingkan di pulau Buru.
Pembaca akan dengan cepat mengetahui jalan ceritanya apabila telah membaca novel sebelumnya, yaitu Bumi Manusia dan melanjutkannya dengan membaca novel ketiga dan keempatnya, yaitu Jejak Langkah dan Rumah Kaca.
Komentar
Posting Komentar